Tanyakan alasan di balik perselingkuhan—apakah ada masalah dalam hubungan yang tidak dibicarakan?
Menurut terapis hubungan Esther Perel, “Perselingkuhan sering kali adalah gejala dari masalah yang lebih besar.”
Dengarkan penjelasan pasangan tanpa memotong, tetapi tetapkan batasan agar diskusi tetap sehat dan tidak berujung pertengkaran.
Baca Juga: Lisa Mariana Ingin Ridwan Kamil Memberi Nafkah untuk Putrinya, Apa Alasan Utamanya?
4. Jangan Buru-Buru Membuat Keputusan Besar
Perselingkuhan memang menyakitkan, tapi jangan terburu-buru memutuskan untuk bercerai, putus, atau memaafkan.
Setiap hubungan punya dinamika sendiri, dan keputusan terbaik butuh pertimbangan matang.
Pikirkan apakah hubungan ini masih layak diperbaiki, apakah pasangan menunjukkan penyesalan tulus, dan apakah kamu masih punya kepercayaan.
Jika bingung, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan konselor pernikahan atau teman yang netral untuk mendapat perspektif baru.
5. Prioritaskan Diri Sendiri dan Kesehatan Mental
Perselingkuhan bisa membuatmu merasa tidak berharga, tetapi ingat: ini bukan cerminan nilai dirimu. Fokuslah pada self-care untuk memulihkan keseimbangan emosi.
Luangkan waktu untuk aktivitas yang kamu sukai, seperti olahraga, membaca, atau menulis jurnal.
Jika merasa terjebak dalam kesedihan, jangan ragu mencari bantuan profesional seperti psikolog. “Merawat diri sendiri adalah langkah pertama untuk bangkit dari trauma perselingkuhan,” kata Dr. Guy Winch, penulis How to Fix a Broken Heart.
6. Tentukan Batasan dan Konsekuensi
Jika memilih memperbaiki hubungan, tetapkan batasan jelas untuk mencegah kejadian serupa. Misalnya, minta pasangan lebih transparan dengan komunikasi atau ikut terapi pasangan untuk memperbaiki kepercayaan.
Jika memilih berpisah, pastikan kamu punya rencana praktis, seperti dukungan finansial atau tempat tinggal. Apa pun pilihannya, komunikasikan konsekuensi jika batasan dilanggar lagi—ini menunjukkan kamu serius menjaga harga diri.
7. Hindari Menyalahkan Diri atau Orang Ketiga
Sering kali, kita menyalahkan diri sendiri (“Apa yang kurang dari aku?”) atau terobsesi dengan orang ketiga.