JAKARTA, ViewJabar.com – Misteri kematian Sutrimo, pria yang disebut pernah menjadi Kepala Rumah Tangga (Karumga) eks Jampidsus Kejaksaan Agung (Kejagung), Febrie Adriansyah, memasuki babak baru.
Polda Metro Jaya melakukan ekshumasi terhadap jenazah Sutrimo yang telah dimakamkan di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (12/8/2026).
Langkah ini dilakukan setelah kematian Sutrimo menjadi sorotan publik. Ia sebelumnya ditemukan meninggal dunia di depan klinik kecantikan Mordent, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada akhir Juli 2026.
Kematian tersebut kemudian memunculkan berbagai pertanyaan, terlebih Sutrimo disebut memiliki keterkaitan pekerjaan dengan Febrie Adriansyah yang kini terseret perkara korupsi.
Pihak keluarga belakangan membenarkan bahwa Sutrimo memang pernah bekerja untuk Febrie. Namun, keluarga mengaku tidak mengetahui secara detail pekerjaan yang dijalankan Sutrimo selama bekerja.
Kini polisi turun tangan untuk mengungkap penyebab kematian melalui pemeriksaan forensik.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan, ekshumasi merupakan bagian dari proses penyidikan untuk mendapatkan bukti medis dan ilmiah.
"Pelaksanaan ekshumasi hari ini merupakan bagian dari proses penyidikan," ujar Budi dalam keterangannya, Rabu (12/8/2026).
Ekshumasi dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari pembongkaran makam, pemeriksaan bagian luar untuk memastikan identitas jenazah, hingga pemeriksaan bagian dalam.
Pemeriksaan tersebut melibatkan tim gabungan Perhimpunan Dokter Forensik dan Medikolegal Indonesia (PDFMI) dari Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Tak hanya dokter forensik, polisi juga melibatkan ahli laboratorium forensik, toksikologi, DNA, hingga histopatologi anatomi.
Keterlibatan sejumlah ahli tersebut membuat proses ekshumasi menjadi sorotan karena hasil pemeriksaan diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai penyebab kematian Sutrimo.
Pihak Febrie Minta Publik Tak Berspekulasi
Di tengah proses penyidikan, pihak Febrie Adriansyah melalui kuasa hukumnya, Firman Wijaya, meminta kematian Sutrimo tidak dikaitkan secara dini dengan perkara yang tengah dihadapi Febrie.
Firman menyebut, berdasarkan informasi yang diterima pihaknya, Sutrimo semasa hidup hanya bertugas menjaga sebuah rumah kosong.