Riri juga mempertanyakan penjelasan dokter mengenai hasil operasi. Sebelum operasi, ia mengaku mendapat penjelasan bahwa kemungkinan benjolan kembali terjadi setelah tindakan relatif kecil. Namun, setelah operasi, menurut Riri, dokter menyampaikan kemungkinan operasi tidak berhasil.
Riri mengatakan dirinya tidak mengetahui apakah rangkaian kejadian tersebut termasuk malapraktik. Ia hanya meminta adanya penjelasan mengenai kondisi anaknya hingga meninggal dunia.
Selain persoalan operasi, Riri mengungkap adanya dugaan miskomunikasi antara dokter anak dan dokter bedah yang menurutnya pernah diakui pihak rumah sakit sekitar setahun lalu.
Menurut Riri, ketika anaknya berada di ruang PICU dalam kondisi kritis dan tidak sadar, dokter anestesi sempat meminta agar anaknya diberikan ASI.
Namun, dalam pertemuan berikutnya dengan pihak rumah sakit, Riri mengaku mendapat penjelasan dari dokter yang disebut sebagai atasan dokter anestesi dan dokter bedah anak bahwa pasien dalam kondisi tidak sadar seharusnya tidak diberikan ASI karena berisiko masuk ke saluran pernapasan.
Riri menyebut setelah anaknya diberikan beberapa tetes ASI, kondisinya semakin kritis dan mengalami kejang.
Ia berharap pihak rumah sakit memberikan penjelasan secara transparan mengenai seluruh proses penanganan medis terhadap anaknya, termasuk penyebab kondisi kritis hingga meninggal dunia.
"Saya paham takdir Allah dan saya ikhlas. Tapi jalannya yang membuat saya sakit. Kenapa kalau memang ada kesalahan, pihak rumah sakit tidak mengakui?" ujar Riri.