KARAWANG, ViewJabar.com – Ribuan kutu beras yang diduga berasal dari kompleks pergudangan Genesis di Kelurahan Tunggakjati, Kecamatan Karawang Barat, menyerbu permukiman warga dan memicu keluhan kesehatan serius.
Gudang yang disewa oleh Perum Bulog tersebut diketahui menyimpan ratusan ton beras. Teror hama ini dilaporkan telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir dan semakin masif akibat musim kemarau, terutama pada pagi dan malam hari.
Salah seorang warga Tunggakjati, Ahmad Kamil, mengeluhkan ketidaknyamanan akibat serangan tersebut karena harus membersihkan rumahnya tiga sampai lima kali sehari.
Baca Juga: Polresta Bandung Tangkap 3 Tersangka Rudapaksa Anak 13 Tahun di Ciparay
”Kami merasa tidak nyaman. Setiap pagi, sore, dan malam harus beberapa kali menyapu rumah. Bahkan pada Sabtu malam, telinga istri saya kemasukan kutu beras hingga mengeluarkan darah. Ada juga anak tetangga yang mengalami hal serupa,” ujar Ahmad Kamil, Jumat (3/7/2026).
Menanggapi keluhan warga, Kepala Bulog Karawang Rafki Ismael memastikan pihaknya segera menindaklanjuti persoalan itu bersama pengelola gudang, BGR.
Rafki menjelaskan bahwa Bulog telah menerapkan Pengendalian Hama Gudang Terpadu (PHGT) sebagai standar.
”Pada penyimpanan beras, hama memang memiliki siklus hidup. Oleh karena itu, kami terus melakukan upaya pengendalian melalui berbagai langkah, seperti fumigasi pada komoditas dan penyemprotan (spraying) di lingkungan gudang. Langkah tersebut bertujuan mengendalikan tingkat serangan hama di gudang penyimpanan beras Bulog,” jelas Rafki.
Ia menambahkan, Bulog dan BGR telah melakukan pemantauan langsung ke lokasi setelah menerima laporan dari masyarakat.
”Kami bersama teman-teman BGR sudah melakukan monitoring ke lapangan. Memang ada beberapa warga yang terdampak, dan hal itu sudah kami tindak lanjuti. Mudah-mudahan permasalahan ini bisa segera teratasi. Bulog bersama BGR akan bertanggung jawab agar kenyamanan masyarakat di sekitar gudang tetap terjaga,” katanya.
Terkait kekhawatiran warga mengenai kualitas komoditas pangan tersebut, Rafki memastikan keberadaan kutu tidak memengaruhi mutu beras yang akan disalurkan kepada masyarakat.
”Kutu beras yang ada merupakan hama sekunder, sehingga tidak menyerang komoditas secara langsung. Sebelum beras disalurkan, kami juga rutin melakukan proses pengolahan dan pemeriksaan kualitas. Oleh karena itu, kami memastikan beras yang diterima masyarakat tetap dalam kondisi baik dan layak konsumsi,” tegas Rafki.
Artikel Terkait
Nestapa Istri Polisi di Jateng: Alami Luka Bakar 47 Persen dan Dipaksa Konsumsi Narkoba
Polresta Bandung Tangkap 3 Tersangka Rudapaksa Anak 13 Tahun di Ciparay