Diduga didominasi limbah pabrik
Pada saat musim kemarau, Puarman menuturkan, sungai Cileungsi terjadi lebih dari tujuh hari tanpa hujan (THT), maka debit air sungai itu mengecil, saat debit mengecil dan TMA rendah, maka diduga limbah dari pabrik sekitar sungai menjadi dominan.
Coba saja perhatikan lanjut Puarman, air yang berasal dari sungai Cileungsi terlihat menghitam seperti oli, dan airnya terlihat seperti mengendap.
sedangkan air yang berasal dari sungai Cikeas terlihat berbeda, airnya berwarna coklat dan mengalir cukup deras.
Kedua aliran sungai tersebut, bertemu disebuah persimpangan, lalu mengalir ke arah kali Bekasi di kota Bekasi.
"Terkesan pencemaran itu hanya terjadi di musim kemarau, padahal tidak, itu sepanjang waktu, hanya diluar musim kemarau, debit air sungainya tinggi, pencemarannya tidak begitu terlihat, itu saat musim hujan," paparnya.
Diketahui, sejak periode Agustus 2023, ribuan warga yang bermukim di sekitar aliran sungai Cileungsi dan Cikeas mengeluhkan air sungai yang berwarna hitam dan bau menyengat.
Baca Juga: Hindari Rasa Kesepian Jika Menerpa Diri Anda, Ancaman Parkinson Menanti
"KP2C kembali melakukan penelusuaran, untuk mencari sumber pencemaran sungai Cileungsi dan Cikeas dari hulu hingga ke hilir," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor terjunkan tim gabungan untuk melakukan investigasi penyebab terjadinya pencemaran sungai Cileungsi.
Tim gabungan di terjunkan pada 3 titik lokasi, untuk menelusuri sumber utama terjadinya pencemaran di sungai Cileungsi.***