daerah

Atalia Praratya Kritik Keras Lagu Bupati Purwakarta yang Diduga Rendahkan Perempuan

Rabu, 1 Juli 2026 | 10:57 WIB
Kolase Foto Anggota DPR-RI Atalia Praratya dan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzen (Istimewa)
PURWAKARTA, ViewJabar.com — Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzen, atau yang akrab disapa Om Zein, kini tengah berada di pusaran kontroversi besar.
 
Lagu berbahasa Sunda terbarunya yang berjudul "Lalaki Langit Lalanang Jagat" memicu gelombang kecaman luas dari publik karena dinilai sarat akan superioritas pria, bias gender, hingga menjurus pada narasi misoginis yang menyudutkan kaum hawa.
 
Karya seni yang awalnya diniatkan sebagai wujud rasa syukur tersebut ditulis sejak awal tahun ini. Om Zein sempat memperkenalkannya dalam gelaran Hajat Bumi di Lingga Mukti.
 
 
Namun, lagu ini baru memantik kegaduhan masif setelah dinyanyikan dalam sebuah agenda resmi kedinasan.
 
Alih-alih menuai apresiasi, liriknya dinilai mengolok-olok kodrat serta pengalaman biologis perempuan.
 
 
 
 
Viral di Media Sosial
 
Kontroversi ini mencuat ke publik setelah konten kreator Arini Joesoef membongkar bait demi bait lirik gubahan sang kepala daerah melalui akun Instagram pribadinya, @arinijoesoef.
 
 
Arini menilai lirik tersebut sangat tidak berempati dan memberikan stempel negatif terhadap perempuan.Beberapa poin lirik yang menjadi sorotan tajam netizen meliputi:
 
 
Seksualisasi & Stigmatisasi: "Makasih Tuhan sudah menciptakan aku sebagai laki-laki, aku jadi enggak usah beli kutang yang busanya lebih besar daripada payudara."
 
Meremehkan Isu Kehamilan Remaja: "Sebab kalau aku jadi perempuan, SMP kelas 3 aku udah keguguran 7 kali."
 
 
Kecemasan Reproduksi sebagai Gurauan: "Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku sebagai laki-laki, tak usah berkeliling apotek kalau telat datang bulan."
 
"Kalau kita lihat, lagu itu memang bentuk syukur seseorang diciptakan sebagai laki-laki. Tapi apakah layak kita menuturkan syukur kepada sesuatu yang kita agung-agungkan dengan konstruksi lirik yang superior habis? Kenapa menstruasi, beli kutang, reproduksi, dan kehamilan itu dijadikan olok-olok?" ujar Arini dalam pernyataan terbukanya.
 
 
Kritik Keras Anggota DPR-RI
 
Kecaman tidak hanya datang dari warganet, tetapi juga dari tokoh politik nasional. Anggota DPR-RI, Atalia Praratya, turut menyampaikan kekecewaan mendalam melalui unggahan di akun Instagram pribadinya.
 
 
Atalia menegaskan bahwa ia tidak menemukan ruang sedikit pun dalam lagu tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan.
 
Ia juga mempertanyakan pemilihan diksi yang dianggap mencederai keluhuran Budaya Sunda.
 
 
"Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi. Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," tulis Atalia tegas.
 
 
Istri mantan Gubernur Jawa Barat ini juga menyayangkan lahirnya narasi patriarkal dari seorang kepala daerah, di saat elemen masyarakat sedang berjuang melawan budaya yang merendahkan perempuan.
 
"Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?" pungkasnya.
 
 
Hingga saat ini, gelombang protes dan kritik dari berbagai pihak masih terus mengalir deras menuntut klarifikasi dari pihak Bupati Purwakarta atas blunder lirik lagu tersebut.(*)

Tags

Terkini