Yakni babak kualifikasi dan final. Di babak kualifikasi, kata Ray Adhari, tim seleksi nasional mengambil 8 peserta untuk diikutsertakan dalam ajang lomba atletik tingkat dunia.
Baca Juga: Siasati Ribetnya Absensi Manual, SMAN 4 Kota Tasikmalaya Lakukan Hal Diluar Dugaan, Tingkatkan Mutu
"Nah Elisa berada di urutan 9, selisih lompatannya hanya 5 cm dengan peserta lain," kata Ray Adhari.
Di babak final, lanjut Ray Adhari, lompatan terjauh berada di 4,96 meter, sedangkan Elisa dibabak kualifikasi lompatannya mencapai 4,40 meter.
Disebutkan Elisa memiliki kekurangan di sprin dan dibagian inilah yang harus digembleng karena tolakannya sudah memenuhi persyaratan dan bagus.
“Jadi di setiap latihan lebih banyak digembleng sprin,” kata Ray Adhari.
Diakui Ray Adhari, karena postur tubuh Elisa bersiap untuk atlit silat, ini menjadi kendala sekaligus penghambat saat terjun di musim semi.
Karena untuk sprint pendek postur kaki harus lebih kecil dan ringan. Di sini yang dibutuhkan, jelas Ray Adhari, adalah kecepatan.
Baca Juga: Kajian Akademik SMAN 8 Kota Tasikmalaya Atas Usulan Komite Sekolah dan Forum Orangtua Siswa
“Tolakan Elisa sudah bagus karena di silat sudah dipersiapkan untuk tolakan, hanya di sprint masih kurang,” ucapnya lagi.
Sepatu Yang Digunakan Bagi Seorang Atletik
Menyinggung masalah sepatu, Ray Adhari menjelaskan, untuk melompat jauh bagi seorang atletik harus menggunakan sepatu khusus.
Karena di situ ada spesialisasi yaitu lompat jauh, lompat, menengah dan jarak jauh. Dan untuk di trek semuanya harus menggunakan ruang sepatu (khusus).
Baca Juga: Buntut Aksi Kelompok Arek Malang dan Tragedi Kanjuruhan, Arema FC Dibubarkan, Ini Penjelasannya!