VIEWJABAR - Guru Besar IPB University, Prof Trisna Pribadi dalam risetnya mengungkapkan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati sekitar 4.000 jenis pohon.
Keanekaragaman hayati tersebut, menurut Guru Besar IPB University, Prof Trisna Pribadi, perlu dijaga kelestarian, pengembangan serta pengelolaannya secara berkelanjutan, karena keberadaan pohon - pohon itu berpotensi untuk digunakan sebagai kayu bangunan.
Dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University beberapa saat lalu secara daring, Prof Trisna mengulas perlindungan kayu dan bangunan bisa dilakukan dengan rekayasa bahan kayu, rekayasa desain struktur bangunan, maupun manajemen perlindungan bangunan yang terprogram dengan baik.
"Integrasi perlindungan kayu dan bangunan tersebut sangat penting dalam kesejahteraan hidup manusia dan mendukung pengelolaan sumber daya hutan yang lestari," ujarnya.
Selain itu, Prof Trisna menjelaskan terkait ancaman biodeteriorasi pada rumah dan bangunan. Dikatakannya, kayu merupakan bahan alami yang dapat diperbaharui (renewable), energi pengolahannya rendah, multiguna dan tampilannya estetik. Namun, kayu juga menjadi target serangan organisme perusak.
Menurutnya, tingginya risiko biodeteriorasi kayu pada bangunan di Indonesia juga didukung dengan iklim tropis yang hangat, lembab dan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun.
Baca Juga: Jadwal Sholat hari ini Kota Bandung dan Sekitarnya, Senin 23 Oktober 23
"Upaya mengatasi ancaman biodeteriorasi pada rumah dan bangunan, disebut dengan pre construction (sebelum dibangun rumah atau bangunannya) dan post construction (sudah terjadi)," paparnya.
Prof Trisna menambahkan, pada pre construction bisa dilakukan dengan memilih bahan yang awet sehingga akan lebih panjang umur pakainya karena mengandung zat ekstraktif yang bersifat toxic juga meningkatkan bahan agar menjadi tahan dari serangan perusak baik itu jamur maupun rayap.
"Post construction bangunan yang sudah terbangun dan terserang komponennya, bisa dilakukan perawatan kimia (chemical treatment). Misalnya, menginjeksikan bahan kimia yang sudah rusak dan diganti dengan kayu yang awet atau diberi perawatan bahan kimia," tutur Guru Besar, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University ini.
Baca Juga: Jadwal Sholat Hari ini Kota Bogor dan Sekitarnya, Seni 23 Oktober 2023
Di sisi lain lanjut Prof Trisna, faktor pendukung biodeteriorasi yaitu kayu tidak awet, iklim tropis (CH,RH,T) tinggi dan kelimpahan organisme perusak yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi dan kesehatan, kenyamanan serta keamanan pada seseorang.
"Biodeteriorasi oleh rayap dan jamur pelapuk yang mengancam rumah dan bangunan, perlu dicegah dan dikendalikan melalui rekayasa bahan kayu dan manajemen perlindungan bangunan," katanya.