“Matahari memiliki siklus sekitar 11 tahun sekali. Siklus ini sifatnya tidak selalu sama di setiap saat. Terkadang, Matahari sangat aktif melepaskan energi eksplosif, sementara di periode lainnya Matahari bersikap sangat tenang,” ucapnya.
Baca Juga: Polri Dalami Teror Ancaman Penembakan Terhadap Anies Baswedan
Siklus 11 tahunan ini, kata Johan, telah dikenal lama manusia. Setidaknya, keberadaan siklus matahari telah terdokumentasikan dengan baik sejak abad 18.
Ia menyebutkan, saat ini manusia sedang berada di awal siklus ke-25 yang diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tahun 2024-2025. Pada saat itu, aktivitas Matahari diperkirakan akan meningkat dengan frekuensi kejadian flare dan lontaran massa korona kemungkinan akan bertambah.
Masyarakat yang tertarik untuk mengetahui kondisi terkini cuaca antariksa, dapat melakukan pemantauan melalui situs penyedia layanan informasi cuaca antariksa di internet. (*)