VIEWJABAR- Selama ini kita mengenal Jendral Sudirman sebagai Jenderal besar pertama di Republik Indonesia.
Namun tak banyak diantara kita yang mengetahui bahwa Jendral Sudirman merupakan seorang Ustadz yang gigih berdakwah.
Kita diajarkan di sekolah bawa Jendral Sudirman berperang dengan taktik gerilya.Tapi mengapa seruan jihad fisabilillah Jendral Sudirman dihilangkan dari pelajaran sekolah.
Panglima Besar Jenderal Soedirman seorang pejuang kemerdekaan yang mengobarkan semangat jihad perlawanan terhadap kedzoliman.
Baca Juga: Jelang KTT G20, Polri Siagakan Personal Amankan Wilayah di Luar Bali
Jendral Sudirman membekali diri dengan pemahaman dan pengetahuan agama sebelum terjun dalam dunia perjuangan, dan kemudian aktif dalam aksi-aksi perlawanan dalam mempertahankan kemerdekaan.
Jendral Sudirman mengawali karir militernya sebagai seorang dai muda yang giat berdakwah di era tahun 1930-1942 di daerah Cilacap dan Banyumas.
Hingga Pada masa itu Sudirman adalah dai Mashur yang dicintai masyarakat. Jendral Sudirman terlahir dari pasangan rakyat di desa Bodas, Karangjati Kecamatan Rembang Kabupaten Purbalingga Hindia Belanda.
Sudirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi setelah keluarganya pindah ke Cilacap pada tahun 1916.
Sudirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin, ia sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler termasuk mengikuti program kepanduan Hizbul Wathon yang dijalankan oleh organisasi Islam Muhammadiyah.
Baca Juga: Imran Khan Lolos dari Ujicoba Pembunuhan Saat Kampanye Politik, Menlu AS Serukan INI
Saat di sekolah menengah Soedirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi. Sudirman dihormati oleh masyarakat karena ketaatannya pada Islam.
Setelah berhenti kuliah keguruan pada 1936 Sudirman mulai bekerja sebagai seorang guru dan kemudian menjadi kepala sekolah di Sekolah Dasar Muhammadiyah.
Sudirman juga aktif dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya dan menjadi pemimpin kelompok Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1937.