"Konsekuensinya, para CEO secara global mengevaluasi kembali model operasi mereka dan memotong biaya," kata Bob Moritz dilansir dari ANTARA Selasa 17 Januari 2023.
Baca Juga: Keren Pisan Euy, Payung Geulis Khas Tasikmalaya Jadi Wakil Indonesia ikut Pameran di Thailand
Namun kata Bob Moritz terlepas dari tekanan ini, mereka terus menempatkan orang-orang mereka di posisi penting saat mereka ingin mempertahankan bakat.
Hal itu mereka lakukan setelah Great Resignation atau proses keluar massal yang terjadi selama pandemi pada dua tahun lalu.
Dalam survei tersebut juga menemukan bahwa hampir 40 persen CEO tidak yakin organisasi mereka akan layak secara ekonomi dalam 10 tahun ke depan.
Baca Juga: Minuman Alami yang Bagus Untuk Turunkan Demam, Mudah dan Murah, Wajib Dicoba Saat Demam
Hal itu akan terjadi jika mereka para CEO tidak mengalami transformasi yang signifikan. Sehingga transformasi dibutuhkan agar pertumbuhan ekonomi tetap bertahan.
Survei tersebut dilakukan oleh Global PwC setelah Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan bahwa 2023 akan menjadi tahun yang sulit lagi. Tetapi pertumbuhan global diperkirakan masih tetap stabil di angka 2,7 persen.
Bob Moritz menyebutkan tantangan terbesar bagi profitabilitas industri jangka panjang adalah perubahan tuntutan dan regulasi pelanggan.
Baca Juga: Bacaan Doa Setelah Mengerjakan Sholat Duha Arab dan Latin, Baca Agar Rezeki Mengalir Deras
Juga kekurangan tenaga kerja dan keterampilan, serta gangguan teknologi dipandang sebagai tantangan terbesar bagi profitabilitas industri jangka panjang.
“Risiko yang dihadapi organisasi dan masyarakat saat ini tidak dapat diatasi sendiri dan terisolasi,” kata Bob Moritz.
Oleh karena itu kata Bob Moritz, para CEO harus terus berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan sektor publik dan swasta.
Hal itu dilakukan untuk secara efektif memitigasi risiko tersebut, membangun kepercayaan, dan menghasilkan nilai jangka panjang, untuk bisnis, masyarakat, dan planet mereka.***