VIEWJABAR - Pakar teknologi industri IPB University, Prof Farah Fahma mengatakan, pengembangan material berbasis selulosa dan nanoselulosa berpotensi besar dalam mendukung agroindustri berkelanjutan.
Dengan pemanfaatan bahan-bahan alam menurut pakar teknologi industri IPB University, Prof Farah Fahma, niscaya dapat mengembangkan agroindustri yang lebih ramah lingkungan.
Dalam pemaparannya pakar teknologi industri IPB University, Prof Farah Fahma mencontohkan Kapas, Kapas merupakan material berbasis selulosa banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tekstil.
Saat ini industri tekstil Indonesia lanjut Prof Farah bergantung pada kapas impor dan dalam beberapa tahun terakhir menghadapi keterbatasan kapas.
“Ini merupakan tantangan sendiri bagaimana kita mengeksplorasi bahan baku nonkapas untuk bisa dijadikan bahan baku tekstil," katanya.
"Kita punya rami, kenaf dan itu bisa dieksplorasi sebagai pengganti kapas untuk bahan baku industri tekstil kita," tamah Prof Farah.
Namun menurutnya, proses ekstraksi dan pengolahan serat masih menjadi tantangan tersendiri bagi bahan non kapas.
Prof Farah menjelaskan, selain tekstil, industri pulp dan kertas juga sudah menggunakan produk berbasis selulosa yang bersumber dari kayu.
Namun karena terbatasnya ketersediaan bahan kayu, penerapan selulosa di industri tersebut dapat beralih ke sumber serat alam nonkayu seperti ampas sagu, bambu dan eceng gondok.
Baca Juga: Jadwal Sholat hari ini Kota Bandung dan Sekitarnya, Senin 23 Oktober 23
Bahkan, Prof Farah menyebut bahwa kertas yang bersumber serat alam nonkayu memiliki performa kertas liner terbaik.
Adapun nanoselulosa, lanjutnya, dapat diaplikasikan dalam kemasan produk industri. Pada sistem kemasan aktif, penambahan antimikroba dan antioksidan dalam matriks komposit bertujuan untuk memperpanjang umur simpan produk yang rentan terhadap pembusukan oleh mikroba dan proses oksidasi.