VIEWJABAR - Kolang kaling atau cangkaleng merupakan makanan khas yang biasa di santap warga pada bulan Ramadhan.
Makanya tidak heran jika setia bulan Ramadhan tiba, para penjual Kolang-kaling atau Cangkaleng mulai bermunculan di kawasan jalan Salawu Kabupaten Tasikmalaya.
Salah satunya terlihat di sepanjang jalan antara Salawu dan Kabupaten Garut, atau tepatnya di Kampung Langkob, Desa Tanjungsari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya.
Baca Juga: Video Seorang Wanita Loncat Dari Jembatan di Salawu Tasikmalaya Ternyata Hoax, Ini Fakta Sebenarnya
Deretan saung saung tempat pengolahan Kolang-kaling atau Cangkaleng terlihat di sepanjang jalan tersebut.
Mereka beraktivitas untuk mengolah Kolang-kaling atau Cangkaleng selama 24 jam setiap harinya. Sehingga suasana pinggir jalan pun ramai.
Untuk bisa menjadi Kolang-kaling siap makan ternyata membutuhkan proses yang sangat panjang dan agak rumit bagi yang tidak terbiasa.
Baca Juga: Ingin Tahu Apakah Puasa Ramadhan Kita Diterima Allah SWT, Ustadz Adi Hidayat Jelaskan Tanda Tandanya
Buah Kolang-kaling harus di bakar, atau di kukus terlebih dahulu. Kemudian dibuang kulitnya dan diambil buah yang warnanya putih.
"Dan sebelum bisa dimakan harus dicuci kembali " kata Ahmad, salah seorang pengolah Kolang-kaling atau Cangkaleng yang ada di pinggir Jalan Raya Salawu Garut.
Mengingat lamanya proses tersebut, makanya tak heran jika dalam saung pengolahan Kolang-kaling atau cangkaleng sering terlihat ada lima bahkan hingga sepuluh orang pekerja.
Baca Juga: Warga Tasikmalaya Protes Soal Penanganan Citanduy, Wagub Jabar Uu Ruzhanul Ulum Jelaskan Hal Ini
Sedangkan alasan lokasi pengolahan dilakukan di pinggir jalan, agar lebih efektif baik dalam proses pengolahan maupun penjualan
"Kalau di pinggir jalan kan banyak kendaraan yang lewat, jadi bisa sambil jualan langsung, dan yang membeli juga banyak" kata Ahmad.
Aktifitas pengolahan Kolang-kaling atau cangkaleng di pinggir jalan tersebut, biasanya di lakukan selama bulan Ramadhan. Karena banyak peminat untuk makanan takjil buka puasa.