Karena adanya akses jalan setapak bisa mempermudah dalam pengangkutan hasil kebun ke Batavia.
Baca Juga: Amalan Sederhana, Tapi Pahalanya Seperti Haji dan Umrah Sempurna
Lalu siapa orang pertama yang membangun jalan setapak tersebut yang kemudian ke Bandung tidak lagi menggunakan perahu atau rakit lewat sungai Citarum atau sungai Cimanuk.
Sosok orang pertama yang membuat akses jalan darat atau jalan setapak dari Bandung untuk bisa sampai ke Bogor dan Jakarta adalah Pieter Enggelhard.
Pieter Enggelhard sosok orang Eropa pertama yang membuka kebon kopi di lereng selatan Gunung Tangkuban Parahu.
Pada tahun 1789, Enggelhard menanam kopi dengan bantuan penduduk pribumi. Dan bisa dipetik hasilnya pada tahun 1807 atau setelah 18 tahun penanaman.
Baca Juga: Jabar Baheula, Ke Bandung Hanya Bisa Menggunakan Perahu atau Rakit, Badak dan Maung Masih Banyak
Hasil kopi yang ditanam di kaki gunung Tangkuban Parahu sangat memuaskan, hingga akhir kebun kopi diperluas ke wilayah Gunung Patuha, Mandalawangi, Malabar dan Galunggung.
Karena produksi kopi yang sudah banyak itulah maka dibutuhkan akses jalan darat untuk membawa hasil kopi ke Batavia atau Jakarta.
Maka Pieter Enggelhard kemudian mulai membangun jalan setapak yang bisa dilalui kuda dari Bandung ke Bogor lalu ke Jakarta sekitar tahun 1807.
Dengan adanya jalan setapak tersebut, maka untuk membawa hasil bumi berupa biji kopi tidak kagi menggunakan jalur sungai tetapi menggunakan jalur darat.
"Angkutan hasil bumi dari wilayah Priangan khususnya tatar Bandung menuju Batavia tidsk lagi dilakukan lewat sungai Citarum, tetapi mulai mengambil jalan darat," tulis Haryoto Kunto.
Baca Juga: Doa Sholat Duha dan Waktu Tepat Untuk Mengerjakannya
Akses jalan darat dari Bandung ke Bogor dan Batavia atau Jakarta baru dibangun pada abad 18, oleh seorang pekebun kopi bernama Pieter Enggelhard. Karena Enggelhard memiliki banyak kebun kopi di wilayah Bandung dan Priangan.
Sebelumnya, untuk bisa masuk wilayah Bandung harus melalui jalur sungai Citarum dengan menggunakan perahu atau rakit.