Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942,Sudirman tetap mengajar. Pada tahun 1944 Sudirman bergabung dengan tentara pembela tanah air (PETA), menjabat sebagai komandan Batalyon di Banyumas.
Selama Sudirman bersama rekan rekan sesama prajurit melakukan pemberontakan terhadap Jepang, Sudirman kemudian diasingkan ke Bogor.
Baca Juga: Inilah Daftar Pahlawan Nasional yang Berasal dari Jawa Barat
Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus tahun 1945, Sudirman melarikan diri dari pusat penahanan kemudian pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Soekarno.
Sudirman ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas yang dilakukannya setelah mendirikan divisi lokal Badan Keamanan Rakyat.
Pasukannya lalu dijadikan bagian dari divisi 5 pada tanggal 12 November tahun 1945 dalam sebuah pemilihan untuk menentukan Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat Yogyakarta.
Ketika Sudirman menjadi seorang panglima, Sudirman seorang yang ditakuti lawan dan disegani kawan.Sudirman memiliki semangat berdakwah yang tinggi dan lebih banyak menekankan pada ajaran tauhid.
Kesadaran beragama serta kesadaran berbangsa sebagai kader Muhammadiyah, Panglima Sudirman dikenal sebagai santri atau jamaah yang cukup aktif.
Dalam Pengajian malam Selasa yakni pengajian yang diselenggarakan oleh PP Muhammadiyah di Kauman berdekatan dengan Yogyakarta.
Sudirman merupakan sorang Panglima yang istimewa dengan kekuatan iman dan keislaman yang melekat kuat dalam dadanya.
Sudirman juga seorang prajurit yang sangat meneladani kehidupan Rasululloh SAW, mengajarkan kesederhanaan dan kebersahajaan.
Sehingga perlakuan khusus dari Jamaah pengajian yang rutin diikutinya dianggap terlalu berlebihan dan ditolaknya dengan halus.
Baca Juga: Perisiwa Penting yang Terjadi pada 4 November
Seorang jenderal yang soleh senantiasa memanfaatkan momentum perjuangan dalam rangka menegakkan kemerdekaan sebagai bagian dari wujud pelaksanaan jihad fisabilillah.