"Nah itu pun uang pencitraan," kata Dedi Mulyad sambil tetap tertawa-tawa.
Orang-orang kembali tertawa, sementara si ibu berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Dedi Mulyadi.
Usai dari toko sarung Dedi Mulyadi mampir di toko buku langganannya ketika ia kuliah.
Ternyata pemilik toko itu merupakan orangtua sukses. Kelima anaknya menjadi dokter. Salah satu di antaranya menjadi dokter spesialis paru-paru.
"Nah baguslah, memang penting dokter spesialis paru-paru ini. Sebab sekarang ini banyak orang yang tiba-tiba sesak napas ketika membaca media sosial," ujar Dedi Mulyadi di sela-sela obrolannya dengan Bu Haji pemilik toko buku.
Bu Haji pemilik toko menambahkan, menantunya pun seorang dokter.
"Dokter apa itu menantu Ibu?" tanya Dedi Mulyadi.
"Dokter jiwa Pa Haji," jawab Bu Haji.
Lantas Dedi pun mengatakan, dokter jiwa juga sangat penting, agar jiwa orang-orang sehat sehingga bicaranya tak melantur.
Selain memborong sarung, Dedi Mulyadi pun memborong rokok dari pedagang kaki lima di trotoar untuk warga korban gempa Cianjur.
Menurut Dedi Mulyadi, banyak warga korban gempa Cianjur yang meminta rokok dan kopi sehingga ia membelikannya.***