Gantikan Nanik S Deyang, Sudaryono Tegaskan Tak Punya Dapur MBG dan Siap Babat Korupsi di BGN

photo author
Adis Cahyana, View Jabar
- Kamis, 23 Juli 2026 | 10:08 WIB
Kepala BGN Sudaryono yang baru usai dilantik oleh Presiden Prabowo di Istana Negara, Jakarta. (Tangkapan layar YouTube/Sekretariat Presiden))
Kepala BGN Sudaryono yang baru usai dilantik oleh Presiden Prabowo di Istana Negara, Jakarta. (Tangkapan layar YouTube/Sekretariat Presiden))
JAKARTA, ViewJabar.com – Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (22/7/2026).
 
Sudaryono hadir menggantikan Nanik S Deyang yang memutuskan mengundurkan diri demi fokus menjalani pengobatan jantung di luar negeri.
 
 
Usai prosesi pelantikan, Sudaryono menegaskan bahwa jabatan baru ini merupakan tanggung jawab besar.
 
Pasalnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu pilar program prioritas di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
 
 
 
Tegaskan Bebas Konflik Kepentingan dan Siap Digitalisasi

Demi menjaga integritas lembaga, Sudaryono secara terbuka menyatakan bahwa dirinya maupun keluarganya tidak memiliki keterlibatan bisnis dalam program ini, termasuk kepemilikan dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
 
"Enggak ada, enggak ada. Saya tidak punya SPPG, saya tidak punya dapur, saya tidak, tidak ada keluarga saya yang punya dapur dan punya SPPG," ujar Sudaryono kepada awak media.
 
 
Langkah awal yang akan diambil oleh mantan Wakil Menteri Pertanian ini adalah melakukan pembenahan total pada tata kelola BGN.
 
Ia menargetkan transformasi sistem pencatatan dari manual ke digital demi transparansi anggaran.
 
 
Melalui digitalisasi, setiap aktivitas terekam dengan jelas sehingga tidak ada lagi celah untuk praktik tersembunyi yang merugikan negara.
 
 
Dorong Ekonomi Petani Lewat Program MBG

Berbekal pengalamannya selama dua tahun di Kementerian Pertanian, Sudaryono melihat program MBG sebagai peluang besar untuk menggerakkan ekonomi arus bawah.
 
Dana APBN yang dialokasikan untuk program ini diharapkan mengalir ke desa-desa dan langsung menyerap hasil produksi para petani, peternak, serta penyedia pangan lokal.
 
 
"Dana APBN yang besar itu kemudian beredar di desa-desa. Kami melihat langsung bagaimana efeknya," jelas Sudaryono, berharap program gizi ini berbanding lurus dengan kesejahteraan pekerja sektor pangan.
 
 
Komitmen Zero Tolerance Terhadap Korupsi

Menutup pernyataannya, Sudaryono meminta doa restu dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan serta masyarakat luas untuk memimpin BGN bersama jajarannya.
 
Ia pun memberikan peringatan keras bahwa dirinya tidak akan memberi ruang bagi penyelewengan anggaran negara.
 
 
"Doakan kami semua untuk bisa amanah dan menjalankan program ini dengan sebaik-baiknya. Zero tolerance untuk praktik-praktik korupsi, hengki-pengki, dan copet-copetan sebagaimana barangkali ini yang paling dibenci oleh seluruh rakyat Indonesia," pungkasnya.(*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Astriyani.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X