VIEWJABAR - Penasaran berapa banyak pakaian bekas impor masuk ke Indonesia tiap harinya, Asosiasi Pertekstilan Indonesia memiliki catatannya.
Memang belakangan ini bisnis pakaian bekas impor makin digandrungi oleh masyarakat Indonesia. Banyak masyarakat yang memilih belanja baju bekas karena kualitasnya masih layak.
Lalu berapa banyak pakaian bekas impor masuk ke Indonesia dalam setiap harinya, ternyata jumlahnya sangat banyak juga dan ini dijelaskan oleh Asosiasi Pertekstilan Indonesia.
Baca Juga: Inilah Tiga Hal yang Allah SWT Berikan Hanya Pada Saat Puasa Ramadhan Saja, Apa Saja Itu
Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Jemmy Kartiwa Sastraatmaja menjelaskan, jumlah pakaian bekas impor yang masuk ke Indonesia mencapai 25.808 Ton per tahun.
Atau jika dihitung dalam setiap harinya, jumlah pakaian bekas impor yang masuk Indonesia sebanyak 350 ribu potong dan ini terjadi sepanjang tahun 2022.
“Ditotalkan dari 7 negara itu 25.808 ton. Kalau dikonversikan 1 kilogram itu bisa 5 potong baju. Kalau kita bagi itu jatuhnya 70 ton per hari dikalikan 5 pcs per hari 350 ribu potong baju per hari, bisa menggerakkan berapa banyak tenaga kerja,” kata Jemmy Kartiwa Sastraatmaja dilansir dari ANTARA Jumat 31 Maret 2023.
Baca Juga: Beginilah Cara Mandi Junub di Bulan Ramadhan Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW, Berikut Bacaan Doanya
Kata Jemmy Kartiwa, jumlah pakaian bekas impor yang masuk Indonesia pada tahun 2022 itu didominasi oleh Malaysia dengan jumlah 24.544 ton.
Kemudian Korea Korea Selatan dan China yang masing-masing sebanyak 588 ribu ton dan 358 ribu ton. Lalu ada Taiwan dengan jumlah 188 ribu ton, Jepang 92 ribu ton dan Thailand 38 ribu ton.
Pada 2021, volume pakaian bekas impor yang masuk ke Indonesia lebih banyak lagi yakni mencapai 27 ribu ton. Dan pada 2020 berjumlah 24 ribu ton.
Baca Juga: Anggota DPRD Jabar, Ali Rasyid Jelaskan Pada Masyarakat Pemilu 2024 Beda dan Berat, Ini Alasannya
Jemmy Kartiwa menyebutkan khusus untuk jumlah pakaian bekas yang masuk ke Indonesia dari Malaysia terdapat selisih yang sangat besar.
Data yang dimiliki oleh Badan Pusat Statisik dengan data yang dimiliki oleh lembaga serupa di Malaysia yakni Trademaps terdapat perbedaan data yang sangat besar.