Laporan Juliaen de Silva tersebut ditulis dengan menggunakan bahasa Belanda kuno dan menjadi data bangaiman kota Bandung di abad 16.
Untuk bisa ke Bandung pada saat itu harus menggunakan perahu atau pun rakit, melintasi Sungai Citarum dan sungai Cimanuk.
Tidak ada akses jalan ke. Bandung baik dari Cianjur atau pun dari wilayah Garut dan Tasikmalaya meskipun hanya jalan setapak.
Jadi ketika ingin ke Kota Bandung harus melintasi Sungai Citarum atau Sungai Cimanuk dengan menggunakan perahu atau pun rakit.
Pada tahun 1628, Sultan Agung Mataram memberikan tugas kepada Wangsanata atau Dipatiukur untuk memimpin wilayah Bandung.
Baca Juga: Presiden AS Joe Biden akan Kunjungi Indonesia, Ini Agendanya
Dipatiukur atau Wangsanata memimpin wilayah Bandung bersama Tumenggung Bahureksa. Dan memiliki tugas untuk memantau kekuatan Belanda di Batavia atau Jakarta.
Makanya tidak heran jika pada saat itu, Bandung dikenal sebagi daerah tatar ukur, karena yang menjadi penguasa di wilayah Bandung seorang Dipatiukur.
"Pada abad ke 17 Bandung dikenal dengan sebutan tanah Ukur dan merupakan hutan belantara atau Gung liwang liwung top badak top Maung. (Hutan belantara banyak badak banyak harimau)" tulis Haryoto Kunto dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe.
Pada abad ke 16 Kota Bandung sama sekali tidak menarik pihak Kompeni Belanda untuk menjadikan Bandung sebagai pusat ekonomi.
Bandung pada saat itu masih dianggap sebagai daerah yang pantas untuk membuang tentara atau pejabat yang curang dan korup.
Baca Juga: Doa Sholat Duha dan Waktu Tepat Untuk Mengerjakannya
Seorang kopral Kompeni Belanda yang bertugas di Batavia berbuat korup dan suka menipu dan sengaja di buang ke Bandung pada tahun 1712.
Kenapa di buang ke Bandung, atasan si Kopral berharap agar si Kopral mati di makan harimau atau maung dan badak. Atau juga hidupnya sengsara di Bandung.