Ketika orang lain menikmati waktu siang bersama keluarga, saya bisa saja sedang berada di lapangan mengejar informasi. Ketika malam tiba dan kebanyakan orang mulai beristirahat, telepon bisa saja berdering karena ada peristiwa yang harus segera diliput.
Bahkan, pernah suatu ketika siang terasa seperti malam dan malam berubah menjadi waktu untuk bekerja.
Ketika bencana alam terjadi, misalnya, tidak ada pilihan untuk menunggu pagi. Saat masyarakat membutuhkan informasi, wartawan harus turun ke lapangan. Di tengah hujan, kondisi jalan yang sulit, suasana gelap, hingga berbagai risiko keselamatan, tugas jurnalistik tetap harus dijalankan.
Saat orang lain tidur nyenyak, saya justru berada di luar rumah, mencari informasi, memastikan kondisi di lokasi, mewawancarai warga maupun pihak terkait, kemudian menyusun laporan agar masyarakat mendapatkan informasi yang mereka butuhkan.
Namun, tantangan menjadi wartawan tidak berhenti di lapangan.
Pernah beberapa kali saya dan media tempat saya bernaung pada saat itu dilaporkan atas pemberitaan yang saya tulis.
Pemberitaan tersebut bukanlah tulisan yang dibuat sembarangan. Berita itu merupakan hasil karya jurnalistik dan proses investigasi yang saya lakukan dengan menggali informasi serta fakta di lapangan.
Tentu saja, ketika sebuah pemberitaan berujung laporan, ada tekanan tersendiri. Sebagai wartawan, kita harus siap mempertanggungjawabkan apa yang telah ditulis.
Persoalan tersebut kemudian dibawa melalui mekanisme yang berkaitan dengan Dewan Pers. Prosesnya menjadi pengalaman penting dalam perjalanan jurnalistik saya.
Dari sana saya semakin memahami bahwa sebuah karya jurnalistik tidak hanya harus berani, tetapi juga harus memiliki dasar, data, fakta, serta proses kerja yang dapat dipertanggungjawabkan.
Perjalanan itu bahkan berlanjut hingga ke meja hijau.
Menghadapi proses hukum tentu bukan perkara sederhana. Ada ketegangan, kekhawatiran, dan banyak hal yang harus dipersiapkan. Tetapi saya percaya bahwa setiap karya jurnalistik harus dipertanggungjawabkan berdasarkan proses dan fakta yang ada.
Hingga akhirnya, dalam perkara tersebut, putusan hakim menyatakan kami menang.
Bagi saya, kemenangan itu bukan sekadar persoalan menang atau kalah dalam sebuah perkara. Lebih dari itu, pengalaman tersebut menjadi pelajaran besar bahwa menjadi wartawan berarti harus siap mempertanggungjawabkan setiap tulisan yang dibuat.
Dari sana saya semakin memahami bahwa keberanian seorang wartawan bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah tetap menjalankan tugas dengan berpegang pada fakta dan prinsip jurnalistik meskipun berbagai risiko menghadang.