VIEWJABAR - Situasi di Kompleks Rumah Sakit Al Shifa semakin memburuk usai tentara Israel melancarkan ledakan dari ruang bawah pada Rabu (16/11).
"Tentara Israel menjadi satu-satunya pihak yang melakukan penembakan di dalam Rumah Sakit Al Shifa dan sekitarnya," tutur sumber di fasilitas medis tersebut.
Palestina mendesak komunitas internasional untuk melindungi para pasien, staf medis, dan para pengungsi yang ada di Rumah Sakit Al Shifa.
Baca Juga: Menjaga Atmosfer Pertandingan Bagi Skuad PERSIB, Bojan Hodak Agendakan Gim Internal
Kementerian Luar Negeri Paletina menjelaskan, serangan yang dilakukan Israel merupakan bentuk pelanggaran nyata terhadap hukum internasional, hukum kemanusiaan internasional, dan Konvensi Jenewa.
"Pemerintah Israel bertanggung jawab penuh atas keselamatan staf medis dan ribuan pasien, pengungsi dan anak-anak, termasuk bayi prematur, di dalam kompleks (rumah sakit) tersebut," tutur Kemenlu Palestina dalam pernyataannya.
RS Al-Shifa hampir tidak bisa lagi berfungsi akibat serangan dan pengeboman yang dilakukan pasukan Israel.
"Komunikasi dengan orang-orang di dalam Rumah Sakit Al Shifa terputus sama sekali," tutur seorang reporter Anadolu.
Data terbaru otoritas Palestina, memasuki hari ke-40 serangan Israel di Gaza tercatat sedikitnya 11.320 warga Palestina telah terbunuh, termasuk lebih dari 7.000 perempuan dan anak-anak, dan lebih dari 29.200 orang lainnya mengalami luka-luka.
Selain itu, ribuan bangunan termasuk rumah sakit, masjid, gereja juga rusak dan hancur akibat serangan udara dan darat yang dilakukan Israel terhadap wilayah kantong yang terkepung sejak bulan lalu.