Batal ke Podcast Densu, Keluarga Santri Korban Pembakaran di Lombok Dicegat Polisi

photo author
Adis Cahyana, View Jabar
- Rabu, 8 Juli 2026 | 20:48 WIB
Denny Sumargo ungkap keluarga santri yang dibakar di Lombok Tengah batal ke Jakarta.  (Instagram/sumargodenny)
Denny Sumargo ungkap keluarga santri yang dibakar di Lombok Tengah batal ke Jakarta. (Instagram/sumargodenny)

JAKARTA, ViewJabar.com - Keluarga ADR (14) dan almarhum SAH (14), santri yang menjadi korban pembakaran di Lombok Tengah batal ke Jakarta untuk memenuhi undangan podcast Denny Sumargo.

Batalnya keberangkatan tersebut karena rombongan yang dijadwalkan terbang pada Rabu, 8 Juli 2026 dicegat oleh pihak kepolisian saat berada di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid (BIZAM), Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dalam unggahan yang beredar, disebutkan bahwa keduanya dibawa kembali ke RS Bhayangkara untuk meneruskan perawatan medis.

“Kedua korban dan orang tuanya dibawa oleh Polda NTB ke RS Bhayangkara dengan alasan untuk dirawat, tapi di sana korban hanya disuruh duduk dan tidur tanpa perawatan apa pun,” tulis keterangan pada unggahan akun Instagram @kahar_uddinabbas pada Rabu, 8 Juli 2026.

Baca Juga: Pembunuhan di Alun-alun Ujungberung: Polisi Bentuk Tim Khusus Buru 2 DPO

Undangan Podcast karena Kasus Dianggap Tak Menemukan Jalan

Melalui unggahannya, Denny Sumargo mengaku bahwa timnya mendapat kabar bahwa rombongan tidak bisa berangkat ke Jakarta.

“Kasus ini, menurut keluarga korban sudah dilaporkan sudah sekitar 7 sampai 8 bulan lalu tapi tidak ada titik terangnya,” ucap artis yang kerap disapa Densu ini dalam video terbaru yang diunggah pada Rabu, 8 Juli 2026.

Oleh karena itu, karena ramai menjadi perbincangan warganet, tim podcastnya mengundang untuk berbincang di kanal YouTube miliknya.

“Kami memutuskan untuk membelikan tiket dan menyiapkan akomodasi agar keluarga bisa datang ke Jakarta, tepatnya hari ini. Namun, gue mendapat kabar bahwa mereka tidak boleh berangkat,” lanjutnya.

“Kenapa mereka tidak boleh berangkat? Apa yang sebenarnya terjadi?” sambungnya.

Singgung soal Keterbukaan

Masih dari video yang sama, Denny melanjutkan bahwa publik bersimpati pada korban yang dianggap belum bisa menyuarakan perihal kasus tersebut.

“Masyarakat itu bukan ingin menyalahkan, justru karena mereka melihat korban sudah kehilangan begitu banyak, tapi masih kesulitan menyampaikan suaranya. Kalau memang tidak ada yang salah dalam prosesnya, maka keterbukaan itu adalah jawaban terbaik,” terangnya.

Denny juga menyebut bahwa tanpa ada keterbukaan, berpotensi memunculkan asumsi liar di tengah masyarakat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Astriyani.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X