Dugaan MBG Basi Picu Keracunan Massal di SMKN 6 Semarang, Distribusi Makanan Dihentikan

photo author
Astriyani., View Jabar
- Sabtu, 1 Agustus 2026 | 20:20 WIB
Menyoroti fakta terkini ihwal dugaan kasus keracunan massal imbas konsumsi menu MBG di SMKN 6 Semarang, Jawa Tengah.  (Instagram.com/@katakitaig)
Menyoroti fakta terkini ihwal dugaan kasus keracunan massal imbas konsumsi menu MBG di SMKN 6 Semarang, Jawa Tengah. (Instagram.com/@katakitaig)

SEMARANG, ViewJabar.com - Sebagian publik di media sosial tengah ramai menyoroti dugaan kasus keracunan massal yang diduga berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 6 Semarang, Jawa Tengah.

Peristiwa tersebut menjadi sorotan setelah ratusan warga sekolah dilaporkan mengalami keluhan kesehatan usai menyantap menu MBG pada Jumat, 31 Juli 2026.

Makanan yang dikonsumsi diduga sudah tidak layak atau basi sehingga memicu gejala keracunan pada sejumlah siswa dan tenaga pendidik.

Berdasarkan data terbaru dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, sebanyak 707 warga sekolah diduga terdampak.

Jumlah tersebut terdiri dari 693 siswa dan 14 guru yang mengalami berbagai gejala setelah mengonsumsi makanan.

Kepala Dinkes Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam, mengatakan sebagian besar korban mendapatkan penanganan langsung di lingkungan sekolah. Sementara itu, sejumlah lainnya harus dirujuk ke fasilitas kesehatan untuk menjalani observasi lebih lanjut.

"Dari pendataan sementara, sebanyak 707 orang mengalami gejala, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru," ujar Hakam, Sabtu, 1 Agustus 2026.

Sebanyak 689 orang ditangani di sekolah, sedangkan sembilan lainnya dirujuk ke Puskesmas Halmahera, RSUD KRMT Wongsonegoro, RST Bhakti Wira Tamtama, dan Puskesmas Bangetayu. Selain itu, tercatat total 42 siswa sempat menjalani perawatan di puskesmas maupun rumah sakit akibat insiden tersebut.

Dinkes memastikan fokus utama saat ini adalah memberikan pelayanan kesehatan kepada seluruh siswa dan guru yang mengalami gejala, sekaligus menelusuri penyebab pasti kejadian tersebut.

Tim Gerak Cepat (TGC) telah diterjunkan untuk melakukan penyelidikan epidemiologi. Selain itu, petugas juga mengambil sampel makanan serta spesimen dari para korban guna diperiksa di laboratorium.

Hakam menegaskan, pihaknya belum dapat menyimpulkan apakah penyebab keracunan benar-benar berasal dari menu MBG sebelum seluruh hasil pemeriksaan laboratorium selesai.

"Kami belum dapat menyimpulkan penyebab kejadian sebelum seluruh proses pemeriksaan laboratorium selesai. Karena itu, kami mengimbau masyarakat tidak berspekulasi dan menunggu hasil pemeriksaan yang sedang berjalan," tegasnya.

Sebagai langkah antisipasi, distribusi makanan dari penyelenggara SPPG Kota Semarang Timur (Karangturi) dihentikan sementara.

Dinkes juga berkoordinasi dengan pihak SMKN 6 Semarang, Yayasan Putra Maju Mapan Mandiri, serta pihak penyelenggara MBG untuk mendalami dugaan sumber keracunan.

Di sisi lain, Kepala SMKN 6 Semarang, Berty Sagendra, membenarkan bahwa tidak hanya siswa, tetapi juga tenaga kependidikan di sekolahnya turut mengalami gejala yang diduga akibat mengonsumsi makanan tersebut.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Astriyani.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X