VIEWJABAR - Jika bertanya apa senjata khas daerah Jawa Barat (Jabar) ? sudah barang tentu orang akan menyebut kujang, dan berdasarkan budayawan sunda, kujang dalam berbagai literatur kesundaan tidak pernah disebut sebagai senjata.
Demikian dijelaskan Kasepuhan Kawargian Abah Alam, pemahaman masyarakat tentang kujang sebagai senjata harus diubah, karena menurutnya, kujang memiliki nilai yang lebih tinggi dari sekadar senjata.
"Kujang itu adalah simbol kedaulatan sebuah negara, yang disebut pakarang atau senjata itu bedog (golok) dan sejenis lainnya, untuk itu satu argumen bahwa kujang adalah simbol atau pusaka bukan pakarang," jelasnya.
Baca Juga: KPU Umumkan Lima Parpol Tak Lolos Verifikasi Administrasi Sipol
Ditemui disela kegiatan peresmian monumen Kujang Papasangan jilid dua di Mako Brigif 15 Kujang II Kota Cimahi, Abah Alam mengatakan, kujang tidak disebut senjata karena bentuknya yang penuh estetika namun jauh dari bentuk ergonomis sebuah senjata.
"Bahkan dalam beberapa literatur kesundaan, sama sekali tidak mendengar kujang digunakan untuk perang, kalau pun dibawa, kujang hanya untuk menunjukan kasta seseorang dalam perang," katanya.
Untuk itu, lanjut Abah Alam saat ditemui Minggu (20/11/22), yang diperlukan sekarang ialah mengakui kembali eksistensi kujang sebagai simbol atau pusaka dan hilangkan pandangan kujang sebagai senjata agar mengubah mindset masyarakat.
Baca Juga: Meski Garut Gagal Masuk 10 Besar Bupati Rudy Apresiasi Perjuangan Atlet di Porprov XIV Jabar 2022
"Terlalu panjang jika ingin mengetahui lebih jauh kaitan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam sejarah, intinya ialah kujang merupakan simbol kejayaan sebuah negara bernama Kerajaan Pajajaran," ujarnya.
Kerajaan Pajajaran itu sendiri kekuasaannya meliputi seluruh nusantara, jadi kujang pada saat itu menjadi simbol kerajaan, keratuan atau negara lama dan atau presiden (istilah pada saat ini) disebut Tritangtu (Rama, Ratu, dan Resi).
"Namun, kujang sebagai simbol kedigdayaan negara Pajajaran mulai hilang setelah tahun 1579 Masehi, yakni saat Kerajaan Pajajaran runtuh, tapi kalau kembali ke sejarah, bahwa runtagna (runtuhnya) pajajaran di talaga tahun 1578," ungkap Abah Alam.
Lebih lanjut, saat dinyatakan Pajajaran runtuh di 1578, semenjak itu kujang tidak pernah ada lagi dalam suatu kegiatan sakral karena dianggap eksistensi atau kedaulatan sebuah negara sudah tidak ada, dan semenjak itu pula kujang menjadi benda pusaka.
Artikel Terkait
Pertandingan Perdana Piala Dunia 2022, Qatar Vs Ekuador Pukul 23:00 WIB, Berikut Rekor Pertandingan Kedua Tim
Banner Ajakan dan Pesan Moral Direspon Warga Subsektor 16 Cicalengka Kabupaten Bandung, Sektor 21
Seorang Pria di Tambun Bekasi Pamer Kelamin kepada Karyawati yang Sedang Nunggu Bus
7 Desa di 2 Kecamatan Masuk Subsektor 02 Cileunyi Kolaborasi Satgas Sektor 21 dengan Warga Hasilkan Ini
Siaran Langsung Pertandingan Perdana Piala Dunia 2022 Qatar Vs Ekuador Nanti Malam, Berikut Ini Linknya
Keren, Lutfiana Qolbi Siswa SDN 4 Sukalilah Cibatu Garut Melaju ke Tingkat Provinsi dalam Lomba Biantara
Meski Garut Gagal Masuk 10 Besar Bupati Rudy Apresiasi Perjuangan Atlet di Porprov XIV Jabar 2022
KPU Umumkan Lima Parpol Tak Lolos Verifikasi Administrasi Sipol