Merasa Dibunuh Perlahan, Zazi Bilang Keberadaan Angkutan Online dan TMP Menyusahkan Sopir Angkot

photo author
Eko Aripyanto, View Jabar
- Senin, 26 Desember 2022 | 12:01 WIB
Angkot Trayek Buah Batu - Kalapa Sepi Penumpang (eko aripyanto/viewjabar)
Angkot Trayek Buah Batu - Kalapa Sepi Penumpang (eko aripyanto/viewjabar)

VIEWJABAR - Sudah jatuh tertimpa tangga berkali-kali, itulah ungkapan yang dirasakan sopir angkot di Bandung saat ini, kehadiran angkutan umum online dan keberadaan Trans Metro Pasundan (TMP) seakan membunuh para soopir angkot secara perlahan.

Seperti yang dirasakan Zazi (30), sopir angkot Buahbatu – Kalapa di Kota Bandung, ia hanya bisa menyaksikan merasakan ketidak adilan pemerintah dalam mengatasi masalah angkutan umum di Kota Bandung khususnya.

“Kesulitan para sopir saat ini makin dirasa, tidak ada perhatiannya dari Pemkot Bandung atau pemprov Jabar, kita merasa dibunuh secara perlahan atau secara tidak langsung dengan adanya angkutan online ditambah TMP,” katanya.

Baca Juga: Rumah Saki Terbesar di Yaman Tutup Ini Penyebabnya

Menurutnya, angkutan online dan TMP tersebut menyapu bersih penumpang yang biasa duduk berdempetan di kursi angkotnya, baginya program angkutan massal Kementrian Perhubungan (Kemenhub) ini bak pasukan pemukul cepat yang dimiliki TNI Angkatan Darat.

“Bagaimana tidak, TMP beroperasi di jalur angkot yang biasa di jalankan atau dilalui, terlebih beberapa waktu lalu jasa TMP itu gratis, meski saat ini berbayar, namun membuat kami merasa dirugikan bahkan kesusahan, habis udah penumpang kita, mana jalurnya sama lagi,” sambungnya.

Kepada viewjabar Senin (26/12/22), Zazi mengungkapkan, tak hanya merasa dipukul saja, kawan-kawannya yang lain seperti dibuang oleh pemerintah, terutama Kemenhub dan Dishub Jabar ataupun Pemkot Bandung, pemerintah hanya peduli terhadap pengusaha yang sudah mapan dan mampu membangun program angkutan massal, seperti TMP.

Baca Juga: Mekkah Dilanda Banjir, Ratusan Mobil Hanyut

"Kenapa harus dihadirkan pesaing baru, terus mereka memfasilitasi juga, kalau hanya soal masuk tol, padahal angkot juga bisa kalau memang sejak dulu difasilitasi pemerintah, kebijakan pemerintah jelas dirasa tidak adil, bahkan tidak jelas,” ungkapnya.

Sejauh ini, meski telah melakukan  audiensi dengan pihak Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung, namun tidak kemudian merubah situasi angkutan saat ini, justru malah dirasa semakin banyak unit atau armada yang berlalu lalang dijalanan.

“Akibatnya, nyaris ratusan angkot trayek Buahbatu – Kalapa yang di kandangkan atau masuk garasi, bahkan parahnya lagi, malah disita oleh pihak bank karena gagal bayar keredit bulanan, sebab pendapatan kami semakin keritis dan tidak menentu,” uajr Zazi.

Baca Juga: Apakah Rusia Merayakan Natal?

Jika dipersentasikan, tak main-main ia mengaku kehilangan 75 persen dari pendapatannya, belum lagi uang setoran yang didapat harus dipotong oleh bunga bank, harga onderdil hingga mahalnya BBM saat ini.

“Saya sekarang cuma bisa mengamankan yang 25 persennya saja, itu juga jarak deket, sehari kadang Rp 30.000 kadang Rp 50.000, belum dipotong untuk hal-hal lainnya," uacapnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Eko Aripyanto

Sumber: Liputan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X