VIEWJABAR.COM - Populasi sapi perah di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengalami penurunan drastis hingga 30% dan jumlahnya sekarang hanya sekira 11 ribu ekor saja.
Selain ada penurunan dalam populasi, rata-rata produksi susu per ekor pun turut turun, jadi sekira 9-10 liter per hari.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskakan) Kabupaten Garut Beni Yoga Gunasantika ketika menerima kunjungan dari pejabat Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia (Kemenko Marves RI).
Baca Juga: Detasemen Gegana Brimob Polda Jabar dan Koramil Tanjungsari Geruduk Desa Cijeruk, Ada Apa?
Pejabat dari Kemenko Marves RI berkunjung ke Garut dalam rangka melaksanakan monitoring dan pengecekan lokasi pengembangan kawasan pertanian terpadu di wilayah Sumadra, Desa Pananjung, Kecamatan Pamulihan, serta Koperasi Peternak Garut Selatan (KPGS) di Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang, Jumat kemarin.
Menurut Beni, populasi sapi perah di Garut itu sebelumnya cukup baik, mencapai 15 hingga 16 ribu ekor.
Itu terjadi sebelum di Garut dan wilayah lain ada pandemi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD).
"Namun, akibat pandemi tersebut, populasi sapi perah mengalami penurunan drastis hingga 30%, menyisakan kurang dari 11 ribu ekor. Dampaknya signifikan terhadap perekonomian, terutama bagi para peternak sapi perah," ujar dia.
Dalam kesempatan tersebut, Beni juga menyoroti penurunan produktivitas susu.
Ia mengatakan, sebelum pandemi, rata-rata produksi susu per ekor mencapai 18-20 liter per hari, namun kini hanya sekitar 8-10 liter per hari.
Baca Juga: TES KEPRIBADIAN : Pilih Gambar, Ketahui Sikap Orang Lain kepadamu Selama Ini, Bagus untuk Instropeksi
"Dengan kondisi seperti itu, peternak tidak bisa mendapatkan nilai manfaat yang besar," ujar Beni.
Untuk mengatasinya, kata dia, Diskannak Garut telah berkoordinasi dengan koperasi untuk mengatasi berbagai permasalahan di lapangan, termasuk penyediaan hijauan makanan ternak, kondisi kandang, sanitasi, dan infrastruktur.
Diskusi dengan Kemenko Marves juga, kata dia sudah dilakukan untuk menentukan langkah pemulihan peternakan susu di Kabupaten Garut.
Baca Juga: TES KEPRIBADIAN : Pilih Gambar, Ketahui Apakah Kamu Punya Bakat Jadi Pemimpin atau Tidak, Berani Coba?
"Mudah-mudahan apa yang menjadi keluh kesah para peternak dapat kita pecahkan secara bertahap dan terstruktur," ungkapnya.
Sementara itu, Asisten Deputi Infrastruktur Pengembangan Wilayah (Asdep IPW) Kemenko Marves, Djoko Hartoyo, mengaku sangat memperhatikan masalah yang terjadi di Kabupaten Garut tersebut.
Terlepas dari masalah tersebut dia mengatakan bahwa Pemerintah Pusat saat ini memiliki program nasional di sektor peternakan melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Ekon).
Artikel Terkait
Jadwal Tayang KKN di Desa Penari 'Extended Version' di Bandung, Garut, Sumedang dan Tasikmalaya
Keren, Mangga Gedong Gincu Asal Sumedang segera Masuk Pasar Jepang
Menko Airlangga Hartarto Sebut Tol Cisemdawu dan KUR di Sumedang, Ini Yang Dilakukannya
Hujan Deras dan Angin Kencang Melanda Sumedang, Pohon Roboh Hantam Truk dan Mobil Pickup, Jl Cadas Pangeran Macet Parah!
Penjabat Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin Lantik Pj Wali Kota Bogor, Pj Bupati Ciamis, dan Pj Bupati Sumedang
Ramalan Cuaca Bandung, Lembang, Soreang, Cimahi, Tak Ada Potensi Hujan, Bagaimana Tasikmalaya, Sumedang, Karawang, Cirebon?
Warga Terdampak Gempa Bumi Sumedang Pertanyakan Bantuan Rehabilitasi Rumah
Gempa 2,7 M Kembali Guncang Sumedang, BMKG Sebut Tak Berdampak Kerusakan Besar
BPD di Sumedang Masih Banyak yang Belum Punya Sekretariat dan Ada Dugaan Pemotongan Insentif oleh Pemdes, FK BPD Lapor ke PJ Bupati Yudia Ramli
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pj Bupati Sumedang Mengajak Stakeholder di Sumedang Meraih Kembali Adipura