Populasi Sapi Perah di Garut Menurun hingga 30 Persen, Produksi Susu pun Hanya 8-10 Liter per Hari, Penyebabnya Kata Diskanak Ternyata Ini

photo author
Aam Permana S, View Jabar
- Sabtu, 8 Juni 2024 | 13:33 WIB
Pelaksanaan monitoring dan cek lokasi pengembangan kawasan pertanian terpadu di Kabupaten Garut khususnya di wilayah Sumadra, Desa Pananjung, Kecamatan Pamulihan dan Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jum'at kemarin/VJ/Diskominfo Garut
Pelaksanaan monitoring dan cek lokasi pengembangan kawasan pertanian terpadu di Kabupaten Garut khususnya di wilayah Sumadra, Desa Pananjung, Kecamatan Pamulihan dan Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jum'at kemarin/VJ/Diskominfo Garut

VIEWJABAR.COM - Populasi sapi perah di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengalami penurunan drastis hingga 30% dan jumlahnya sekarang hanya sekira 11 ribu ekor saja.

Selain ada penurunan dalam populasi, rata-rata produksi susu per ekor pun turut turun, jadi sekira 9-10 liter per hari.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskakan) Kabupaten Garut Beni Yoga Gunasantika ketika menerima kunjungan dari pejabat Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia (Kemenko Marves RI).

Baca Juga: Detasemen Gegana Brimob Polda Jabar dan Koramil Tanjungsari Geruduk Desa Cijeruk, Ada Apa?

Pejabat dari Kemenko Marves RI berkunjung ke Garut dalam rangka melaksanakan monitoring dan pengecekan lokasi pengembangan kawasan pertanian terpadu di wilayah Sumadra, Desa Pananjung, Kecamatan Pamulihan, serta Koperasi Peternak Garut Selatan (KPGS) di Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang, Jumat kemarin.

Menurut Beni, populasi sapi perah di Garut itu sebelumnya cukup baik, mencapai 15 hingga 16 ribu ekor.

Itu terjadi sebelum di Garut dan wilayah lain ada pandemi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD).

Baca Juga: TES KEPRIBADIAN : Pilih Matahari Terbit yang Paling Indah dan Disukai, Baca Pesan Penting Tersembunyi Terkait Karakter Khusus Anda, Wajib Dicoba!

"Namun, akibat pandemi tersebut, populasi sapi perah mengalami penurunan drastis hingga 30%, menyisakan kurang dari 11 ribu ekor. Dampaknya signifikan terhadap perekonomian, terutama bagi para peternak sapi perah," ujar dia.

Dalam kesempatan tersebut, Beni juga menyoroti penurunan produktivitas susu.

Ia mengatakan, sebelum pandemi, rata-rata produksi susu per ekor mencapai 18-20 liter per hari, namun kini hanya sekitar 8-10 liter per hari.

Baca Juga: TES KEPRIBADIAN : Pilih Gambar, Ketahui Sikap Orang Lain kepadamu Selama Ini, Bagus untuk Instropeksi

"Dengan kondisi seperti itu, peternak tidak bisa mendapatkan nilai manfaat yang besar," ujar Beni.

Untuk mengatasinya, kata dia, Diskannak Garut telah berkoordinasi dengan koperasi untuk mengatasi berbagai permasalahan di lapangan, termasuk penyediaan hijauan makanan ternak, kondisi kandang, sanitasi, dan infrastruktur.

Diskusi dengan Kemenko Marves juga, kata dia sudah dilakukan untuk menentukan langkah pemulihan peternakan susu di Kabupaten Garut.

Baca Juga: TES KEPRIBADIAN : Pilih Gambar, Ketahui Apakah Kamu Punya Bakat Jadi Pemimpin atau Tidak, Berani Coba?
"Mudah-mudahan apa yang menjadi keluh kesah para peternak dapat kita pecahkan secara bertahap dan terstruktur," ungkapnya.

Sementara itu, Asisten Deputi Infrastruktur Pengembangan Wilayah (Asdep IPW) Kemenko Marves, Djoko Hartoyo, mengaku sangat memperhatikan masalah yang terjadi di Kabupaten Garut tersebut.

Terlepas dari masalah tersebut dia mengatakan bahwa Pemerintah Pusat saat ini memiliki program nasional di sektor peternakan melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Ekon).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Aam Permana S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X