VIEWJABAR - Hari Pahlawan diperingati setiap tanggal 10 November karena pada tanggal ini terjadi pertempuran hebat antara bangsa Indonesia dengan Belanda di Surabaya.
Pada Hari Pahlawan tanggal 10 November, bangsa Indonesia berjihad mengusir Belanda dengan senjata seadanya di Surabaya.
Tanggal 10 November kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan oleh Presiden Soekarno melalui Keppres Nomor 316 tahun 1959 pada 16 Desember 1959. Keputusan ini diterbitkan untuk mengenang heroik dan patriotiknya bangsa Indonesia melawan Belanda.
Dan ternyata banyak juga pejuang Garut yang ikut bertempur bersama Bung Tomo di Surabaya pada saat itu.
Salah satunya adalah Mustafa Kamil, seorang ulama yang lama mukim di Mekkah. Mustafa Kamil adalah aktivis Syarekat Islam di Garut. Ia pun tercatat sebagai pengurus Masyumi.
Mustafa Kamil adalah ulama dan pejuang yang tak pernah mengenal rasa takut. Sebelum ikut bertempur di Surabaya, belasan kali ia keluar masuk penjara, baik di zaman Belanda maupun zaman Jepang karena sikapnya yang menentang penjajahan.
Baca Juga: Buntut Kebakaran Balaikota Bandung, Staf di Pemkot dan 2 Pekerja Diamankan
"Sarinah", buku Biografi Soekarno yang ditulis oleh Cindy Adam, menyinggung kekaguman Bung Karno pada sosok Mustafa Kamil yang dikenal sangat pemberani itu.
Dalam buku itu Soekarno mengatakan, di Garut ada seorang ulama yang rela keluar masuk bui karena benci terhadap penjajahan. Soekarno pun menjuluki Mustafa Kamil sebagai "Kyai Jerajak". Jerajak dalam Bahasa Indonesia berati terali besi. Julukan itu diberikan Sang Putra Fajar karena Mustafa Kamil sangat sering masuk terali besi (tahanan).
Mustafa Kamil lahir di Garut pada 5 Agustus 1884. Ketika lahir bernama Muhamad Lahuri. Kedua orang tuanya bernama KH Muhammad Jafar Sidiq dan Hajjah Siti Habibah.
Mustafa Kamil seorang ulama yang haus ilmu agama. Ia pernah mukim di puluhan pesantren di Garut. Ia pun pernah nyantri di Pesantren Tebu Ireng KH Hasyim Asyari.
Baca Juga: Wajah Asli Si Kebaya Merah Bertebaran di Media Sosial
Setelah nyantri di beberapa pesantren di Tanah Air, Mustafa Kamil kemudian berangkat ke Mekkah untuk berguru ilmu agama di Tanah Suci.
Ketika pulang ke Tanah Air pada 1924, ia tinggal di Ciparay, Karangpawitan, Garut. Dari sanalah ia berdakwah dan mengajarkan ilmu agama keada masyarakat Garut.
Dalam buku K.H Mustofa Kamil: Sang Pendekar dari Kota Intan yang disusun Budi Suhardiman, disebutkan Mustafa Kamil 14 kali keluar masuk penjara akibat penentangannya terhadap penjajahan.
Artikel Terkait
Dibuka, Pendaftaran Seleksi PPPK Tenaga Kesehatan 2022, Penempatan di Lingkungan BKN Pusat
Kota Bandung ke Posisi 3 Klasemen Sementara Porprov Jabar 2022, Kabupaten Bogor Tetap di Puncak
Si Kebaya Merah Pemeran Mesum Ditangkap Tadi Malam Bersama Pasangannya
Kesaksian Sopir Ambulan ketika Membawa Jenazah Brigadir J dari Rumah Dinas Ferdy Sambo ke RS Polri
Cabor Tenis Meja Porprov Jabar 2022 Ricuh, Belasan Kontingen Ancam Mengundurkan Diri
Wajah Asli Si Kebaya Merah Bertebaran di Media Sosial
Klasemen Sementara Porprov Jabar 2022 Senin 7 November Hingga Pukul 20.00 WIB, Kabupaten Bekasi ke Puncak
Buntut Kebakaran Balaikota Bandung, Staf di Pemkot dan 2 Pekerja Diamankan