Bandung Saksi Romantisme Percintaan Soekarno dan Ibu Kosnya, Inggit Garnasih

photo author
Lalan Tresna, View Jabar
- Minggu, 20 November 2022 | 11:13 WIB
Romantisme percintaan Soekarno dengan Inggit Garnasih (Sampul Buku Biografi Inggit Garnasih)
Romantisme percintaan Soekarno dengan Inggit Garnasih (Sampul Buku Biografi Inggit Garnasih)

VIEWJABAR - Kota Bandung, Jawa Barat, menjadi saksi romantisme percintaan Presiden pertama RI Ir. Soekarno dan Inggit Garnasih. Dan romantisme ini terjadi ketika Inggit Garnasih masih bersuamikan H. Sanusi. Sementara Soekarno pun saat itu masih beristrikan Oetari.

Soekarno tinggal di Bandung karena saat itu kuliah di de Techniche Hoogeschool te Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung-ITB). Ia kos di rumah Inggit di Jl. Ciateul No.8, Astanaanyar, Kota Bandung.

Meskipun keduanya sudah berumah tangga, namun masing-masing tidak bahagia.

Soekarno dengan Oetari tidak bahagia. Begitu juga Inggit dengan H Sanusi, sama-sama tidak bahagia.

Menurut Soekarno, Oetari bukanlah idamannya karena tingkahnya masih sangat kekanak-kanakan.

Baca Juga: Usai Hina Ibu Negara, Akun Twitter KoprofilJati Kabur dari Dunia Maya, Namun Identitasnya Sudah Beredar

"Ia bukan idamanku, oleh karena tidak ada tarikan lahir dan dalam kenyataan kami tak pernah saling mencintai," tutur Soekarno dikutip dari buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Sedangkan tentang rumah tangga Inggit, Soekarno menceritakan, H. Sanusi pria yang sudah berumur. Ia tergila-gila dengan biliar sehingga tak mempedulikan istrinya. Setiap malam berada di rumah biliar meninggalkan Inggit sendirian di rumah.

"Rumah tangga mereka tidak berbahagia. Sebagai suami-isteri, mereka serumah, lain tidak," ungkap Soekarno ketika menceritakan kondisi rumah tangga Inggit dengan H. Sanusi.

Baca Juga: Spanduk Bertuliskan Ajakan Moral Pemeliharaan DAS, Andalan Subsektor 01 Sampaikan Sosialisasi

Karena Soekarno dan Inggit berada dalam satu rumah, maka dua insan yang tidak bahagia dalam berumah tangga itu dipertemukan setiap saat.

Keduanya pun miliki kebiasaan sama, tidur pada larut malam karena Soekarno sibuk belajar, sementara Inggit mempersiapkan keperluan makanan untuk besok harinya.

Tiba pada suatu waktu terjadilah sebuah peristwa yang diceritakan Soekarno begini:

"Keberanian ini mulai bangkit. Aku seorang yang sangat kuat dalam arti jasmaniah dan di hari-hari itu belum ada televisi......hanya Inggit dan aku di rumah yang kosong. Dia kesepian. Aku kesepian. Perkawinannya tidak betul. Dan perkawinanku tidak betul. Dan adalah wajar, bahwa hal-hal yang demikian itu tumbuh."

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Lalan Tresna

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X