Anda Tak Menyadari Cahaya Merah Bisa Jadi Alat Terapi Pengobatan Kesehatan Tubuh, Simak di Sini

photo author
Tunggal Pratama, View Jabar
- Kamis, 29 Februari 2024 | 08:08 WIB
Ilustrasi, terapi dengan cahaya merah disinyalir memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh (Pixabay)
Ilustrasi, terapi dengan cahaya merah disinyalir memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh (Pixabay)

VIEWJABAR - Tahukah banyak cara mengobati penyakit tanpa mengonsumsi obat? Ya cara itu adalah melakukan terapi. Akan terapi yang dimaksud dalam artikel ini adalah melakukan dengan cahaya.

Lantas seperti apa dan bagaimana melakukan terapi dengan cahaya. Bukankah kita setiap hari akrab degan cahaya, seperti cahaya matahari?

Terapi dengan cahaya di sini adalah melakukannya selama 15 menit dengan cahaya merah.  Sebuahpenelitian mengungkapkan  bahwa pengobatan terapi diabetes mencatat penurunan signifikan tingkat gula darah setelah satu sesi terapi cahaya merah.

Baca Juga: Masalah Finansial atau Materi Pengaruhi Kesehatan, Ini Fakta

Dikutip dari Medical Daily dan PMJNews menuliskan bahwa  terapi  cahaya merah dengan panjang gelombang rendah  diprediksi bisa mengatasi berbagai masalah kulit seperti keriput, kemerahan, jerawat, dan bekas luka, memerangi tanda-tanda penuaan.

Para peneliti secara berkala aktif mengeksplorasi aplikasi potensialnya dalam pengobatan kondisi medis lain di luar masalah dermatologis.

Dari hasil penelitian yang diterbitkan  Jurnal Biophotonics, menuliskan bahwa para peneliti menemukan paparan cahaya merah 670 nanometer (nm) merangsang produksi energi di dalam mitokondria individu sehat, pembangkit energi sel, yang pada gilirannya dapat menyebabkan peningkatan konsumsi glukosa.

Baca Juga: Ema Ema Serbu Mapolres Garut , Rela Antri Guna Mendapatkan Harga Beras Murah, Ini Fakta

Para peneliti melakukan studi di antara 30 peserta sehat yang tidak memiliki kondisi metabolik atau tidak mengonsumsi obat apa pun. Mereka secara acak dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok yang terpapar cahaya merah 670 nanometer selama 15 menit; dan kedua, kelompok plasebo di mana peserta tidak terpapar cahaya sama sekali.

Peserta harus menyelesaikan tes toleransi glukosa oral dan mencatat tingkat gula darah mereka setiap 15 menit selama dua jam berikutnya. Analisis menunjukkan, terapi cahaya merah menghasilkan penurunan 27,7 persen dalam tingkat glukosa darah setelah mengonsumsi glukosa dan mengurangi lonjakan glukosa maksimum sebesar 7,5 persen.

Selain manfaat potensial dari terapi cahaya merah, penelitian inipun menyoroti konsekuensi jangka panjang yang signifikan dari cahaya biru bagi kesehatan manusia, termasuk disfungsi regulasi gula darah. Temuan tersebut menjadi penting, terutama mengingat prevalensi yang semakin meningkat dari pencahayaan LED, yang memancarkan proporsi cahaya biru yang lebih tinggi dan kurang cahaya merah.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Bandingkan Harga Beras dengan Skincare di Saat Harga Beras Mahal dan Mayarakat Sedang Kesulitan, Netizen Bully Mantan Bupati Purwakarta

Mereka melakukan penelitian di antara 30 peserta sehat yang tidak memiliki kondisi metabolik atau tidak mengonsumsi obat apa pun.

Dalam melakukan penelitiannya, para ahli Mereka membagi peserta secara acak dibagi menjadi dua kelompok. Yakni kelompok yang terpapar cahaya merah 670 nanometer selama 15 menit.  Dan kelompok plasebo, di mana peserta tidak terpapar cahaya sama sekali.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Tunggal Pratama

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X