VIEWJABAR - Pakar Teknologi Pangan IPB University, Prof Slamet Budijanto mengatakan bahwa yang diklaim selama ini sebagai beras plastik itu adalah hoaks.
Ditengah maraknya isu beras plastik yang tengah jadi perbincangan di tengah masyarakat, Pakar Teknologi Pangan IPB University, Prof Slamet Budijanto menyebut kalaupun benar beras plastik ada, itu tidak masuk akal.
“Sebagai peneliti, saya bisa memastikan bahwa yang diklaim sebagai beras plastik itu hoaks. Itu adalah butiran/biji plastik, bukan beras,” tegasnya.
Baca Juga: Mahasiswa IPB University Melakukan Inovasi Ciptakan Sampo Kucing Shakura, Praktis Tanpa Bilas !
Guru Besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB University itu menegaskan, semestinya istilah beras plastik itu tidak ada. Yang selama ini ada adalah biji plastik, bentuknya bisa bermacam-macam, termasuk bisa menyerupai beras.
“Yang viral itu sebenarnya biji plastik, tapi dikasih nama beras plastik. Jadi itu bukan beras,” kata Prof Slamet.
Menurut dia, kalaupun ada yang membuat produk beras dari plastik, hal itu tidak masuk akal. Sebab, untuk membuat biji plastik membutuhkan biaya produksi yang jauh lebih mahal dari harga jual beras saat ini.
Baca Juga: Tarif Promo Naik KCJB Resmi Rilis, Mulai Berlaku 18 Oktober 2023 di Semua Rute
Ia menyebut, harga satu kilogram biji plastik dari hasil daur ulang (recycle) saja sudah mencapai Rp 20.000. Lebih mahal dibanding beras premium sekalipun yang saat ini kisaran harganya Rp 15.000.
“Anda bayangkan, beras premium saja paling Rp 12.000 sampai Rp 15.000 per kilogram. Kalau hasil plastik recycle itu kemudian dibentuk seperti beras, kalau mau untung, mau dijual berapa? Ini jelas tidak masuk akal,” jelasnya.
Pada beberapa kasus, dalam pembuatan beras analog menggunakan gliceryn monostearat (GMS) yang merupakan produk turunan sawit. Beberapa peneliti menyebutnya sebagai ‘plasticizer’ yang berfungsi supaya tidak lengket dan lebih kompak produk beras analognya.
Baca Juga: Kejahatan Perang di Jalur Gaza Masih Berlanjut, Iran Beri Peringatan Keras untuk Israel
“Bisa jadi istilah ini yang disalahartikan sebagai plastik. Jika iya, persepsi yang salah ini harus diluruskan,” tuturnya.
Kejadian seperti ini bisa menjadi pelajaran agar masyarakat lebih teliti dan kritis menanggapi suatu isu. Terlebih di era keterbukaan informasi seperti sekarang, berpikir kritis merupakan modal penting dalam memilah benar tidaknya sebuah berita.
Artikel Terkait
LONGSOR ! Tanah Amblas di Bawah Jembatan Cibalok Tajur Bogor, Petugas Buka Tutup Jalan dan Macet Parah
Jembatan Cibalok di Kawasan Tajur Segera Diperbaiki, Bima Arya : Dilakukan Rekayasa Lalin, Aliran PDAM Diputus
Semburan Air Bercampur Gas di Bogor, Badan Geologi: Itu Fenomena Umum
Keracunan Makanan ! Inilah Lima Langkah Cara Mengatasinya, Nomor 3 Jangan Diminum Sembarangan
Bima Arya Breakdance di Atas Catwalk Fashion Show Rubo Menyambut HUT KORPRI ke - 52 di Alun-Alun Kota Bogor
Benarkah Rambut Rontok Disebabkan Kolesterol Tinggi? Simak di Sini !