VIEWJABAR - Sultan Hamengku Buwono X meyakini bahwa Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah tidak akan meletus secara eksplosif seperti yang terjadi pada 2010 lalu.
Ia meyakini bahwasanya Gunung Merapai hanya menutupi lubang-lubang galian pasir yang ada di bawahnya.
Menurut Sultan, pola erupsi pada gunung api aktif itu telah mengalami perubahan dibandingkan saat erupsi besar beberapa tahun silam.
Baca Juga: Banyak Pengusaha UMKM di Garut Belum Kantongi Ijin Usaha
"Yang penting 'ngebaki' (memenuhi) yang dirusak karena ditambang, itu saja. Nanti kalau lubang-lubang itu sudah tertutup kan berhenti sendiri. Memang itu perlu (waktu, red) lama karena tidak hanya di atas, yang di bawah kan juga pada berlubang kan gitu," kata dia.
Bahkan ia merasa bahwasanya guguran yang keluar dari Gunung Merapai memiliki manfaat, yaitu untuk menutupi lubang-lubang yang di sebabkan oleh galian pasir.
Meski membutuhkan waktu yang tidak sebentar, ia meyakini aktivitas vulkanik Merapi akan berhenti dengan sendirinya.
Baca Juga: Pemilu 2024 Ditunda Karena Putusan PN Jakpus ?, Ini Penjelasan Praktisi Hukum HN Suryana
"Sekarang memang harus keluar ya memang 'nyembur', tapi kan hanya satu kilometer, dua kilometer karena yang ditambang di sekitar situ," ucap Raja Keraton Yogyakarta itu.
Berdasarkan pantauan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi atau BPPTKG, pada Sabtu, mulai pukul 12.00 hingga 18.00 WIB, Gunung Merapi tercatat meluncurkan awan panas guguran 29 kali ke arah barat yaitu di alur Kali Bebeng dan Krasak dengan jarak luncur maksimum empat kilometer.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso menyebut hujan abu tipis akibat erupsi Merapi terjadi di sektor barat laut-utara dengan intensitas bervariasi yang di antaranya mencapai Kota Magelang, Jawa Tengah.
Baca Juga: Bersihkan Rahim, Dengan Memakan 6 Makanan Ini, Simak Apa Saja?
Sebaran abu vulkanik juga dilaporkan menjangkau hingga Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah atau mencapai 33 km dari puncak Merapi.
BPPTKG masih mempertahankan status Gunung Merapi pada Level III atau Siaga karena potensi keluarnya magma dari dalam gunung api itu masih tinggi.
Meski meminta masyarakat tetap waspada, Agus optimistis aktivitas erupsi efusif berupa luncuran awan panas guguran itu tidak akan sampai ke permukiman warga di sekitar Gunung Merapi.
Artikel Terkait
Wajib Diketahui, Inilah Bahaya Sinar Matahari Bagi Kulit
Bukan Hanya Mudah Didapat, Ternyata Sinar Matahari Memiliki Banyak Manfaat, Simak Apa Saja?
Balapan Motor Di Rancaupas Kacau, Tim KOMODO Tasik Terjebak Di Rawa
Bola Volly SMANZA CUP 2023 Rangkaian HUT SMAN 1 Manonjaya Ke-36, Ciamis Kirimkan 1 Tim, Ini Alasannya
Truk Pengangkut Kabel Asal Jakarta Terguling ke Jurang
9 Manfaat Telur Ini Jarang Banyak yang Tahu, Simak Apa Saja?