Dedi memaknai orang yang membenci itu merupakan batu asah bagi dirinya.
Orang Jepang, lanjutnya, menciptakan samurai dan sarungnya sebagai batu asah. Maka ketika samurai dicabut dari sarungnya, secara otomatis samurai tersebut terasah oleh sarungnya sehingga menjadi lebih tajam.
"Maknanya, kadang kita diasah oleh orang yang terdekat dalam diri kita. Diasahnya macam-macam," jelasnya.
Baca Juga: Pulang dari Sidang Gugat Cerai, Dedi Mulyadi Unggah Ini, Menyentuh...
Dan Dedi mengaku menikmati asahan dari orang terdekatnya selama hampir 20 tahun. Dengan diasah selama 20 tahun, maka dirinya kini menjadi lebih tajam.
"Dengan ketajaman tersebut lahirlah kepekaan. Manfaatnya, dengan kepekaan tersebut maka lahirlah banyak orang yang tertolong," katanya.
Itulah alasan Dedi Mulyadi menyebut istrinya Ambu Anne sebagai guru.
Terkait kehadirannya di Pengadilan Agama Purwakarta karena gugat cerai yang dilayangkan Ambu Anne, Dedi mengatakan sebenarnya ia enggan datang. Kalaupun ia datang, itu hanya karena Undang-Undang mewajibkannya.
Bagi Dedi Mulyadi, sekarang ini Pengadilan Agama merupakan salah satu tempat yang paling enggan ia datangi.
"Bagi saya sekarang, itu adalah tempat yang sia-sia," jelasnya.***
Artikel Terkait
Kasus Siti Elina, Penodong Pistol ke Paspampres Ditangani Densus 88, Suami dan Guru Ngajinya Jadi Tersangka
Kasus Gagal Ginjal Tidak Masuk KLB, Wapres KH Maruf Amin: Kalau Darurat Pasti Bilang Darurat
Porprov XIV Jabar 2022 di Garut Dimulai Sabtu 29 Oktober Besok, Berikut Jadwal Pertandingan serta Lokasinya
Pulang dari Sidang Gugat Cerai, Dedi Mulyadi Unggah Ini, Menyentuh...
Profil Penny P Lukito, Kepala BPOM yang Tegas akan Mempidanakan 2 Perusahaan Farmasi
Kebaya Goes to UNESCO, Dian Sastro Tak Biasa Disorot Publik
8 Kebaikan Didapatkan Orang yang Menunaikan Solat Subuh, Dahsyat
Arab Saudi Gulirkan Beberapa Kelonggaran bagi Jemaah Haji dan Umrah Indonesia