صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ
“Puasa hari Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang.” (HR. Muslim no. 1162)
Dalam hadis tersebut digunakan kata Yaum (hari) sebelum kata Arafah. Menurut UAH dengan dilekatkannya kata “Yaum” menunjukkan titik berat pada waktu bukan momentum.
“Kalau bahasanya puasa Arafah, maka tidak ada penafsiran lain. Semua di seluruh negeri ini harus berpuasa bersamaan dengan orang wukuf. Jadi, begitu di Arab Saudi wukuf sekarang, kita ikut puasanya di hari itu. Itu kalau tidak menggunakan yaum,” terang UAH.
Menurut UAH dengan adanya kata Yaum menegaskan puasa Hari Arafah itu dilakukan bukan mengikuti momentumnya, tapi mengikuti waktunya.
Dengan demikian, menurut UAH, ketika di suatu negara tanggal 9 Dzulhijjah berbeda dengan saat wukuf di Arafah, maka puasa Hari Arafahnya sesuai waktu negara tersebut.
“Jadi, jatuh puasanya pada tanggalnya, bukan pada momentum wukufnya pada tempat tertentu,” UAH menegaskan lagi.*
Artikel Terkait
Pemerintah Indonesia Mendapat Tambahan Kuota Haji dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi Sebanyak 20.000 Jemaah !
Catat Ini Waktu Puasa 2024 Kapan, Simak di Sini
Begini Proses dan Urutan Safari Wukuf Bagi Orang Yang Sakit Saat Berhaji