“Faktor lingkungan yang perlu diperhatikan antara lain faktor fisik, kimia dan biologis dari perairan. Kesemuanya perlu diketahui sejak awal agar kehidupan biota budi daya dapat terdukung dengan kualitas perairan yang dipilih,” urainya.
Lebih lanjut Fajar Maulana mengatakan, benih yang digunakan budi daya hendaknya memiliki kualitas yang baik.
Hal itu dapat dicirikan dengan benih yang bersertifikat atau berasal dari panti benih, memiliki ukuran yang seragam untuk mencegah terjadinya kanibalisme maupun dominansi, benih yang sehat dan tidak cacat serta responsif bila mendapat gangguan.
Baca Juga: Jeda Fifa Matchday, Persib Diberikan Waktu Istirahat Selama 5 Hari
Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dan Penyuluh, Dinas Perikanan (DP) Kepri, Ir Wan Ilham, MSi menyatakan dukungannya atas program Dosen Mengabdi Inovasi (DMI).
“Kami sangat mendukung program ini, bahkan kalau bisa lebih banyak lagi dosen yang memiliki keilmuan kelautan dan perikanan yang berasal dari Kepri melakukan kegiatan ini. Mengingat provinsi ini sebagian besar kawasannya berupa laut dan pulau-pulau kecil,” ungkapnya.
Dirinya juga berpesan kepada para generasi penerus untuk terus memanfaatkan perairan laut Batam menuju kegiatan budi daya yang berkelanjutan.
Hal tersebut mengingat hasil tangkapan sekarang berbeda dengan dahulu yang berjumlah banyak, berukuran besar dan tidak jauh dari daratan, sedangkan sekarang telah berubah.
Ketua Pokdakan Sioot Coral, Kamaruddin Saban berharap pelatihan ini bisa meningkatkan kemampuan anggota dalam memecahkan masalah pada pembudidayaan ikan kerapu, kakap, kepiting dan teripang yang dilakukan masyarakat.
“Peran peneliti sebagai guru juga diharapkan dapat mendampingi para pembudi daya pemula untuk terus maju dan berkembang. Kami pun membuka lebar peluang kerja sama dan menerima mahasiswa yang ingin membantu dalam kegiatan kami,” tandasnya.***
Artikel Terkait
Perubahan Manajemen Perusahaan Tingkatkan Pelayanan Global, Ini Kata Faizal Reza