VIEWJABAR - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional atau BKKBN menyebut stunting dapat menggerus masa depan anak-anak bangsa karena dampaknya sulit diperbaiki dan berbeda dari penyakit lain.
“Kalau penyakit yang disebabkan jamur misalnya, itu tidak menggerus kecerdasan. Stunting ini merusak masa depan anak-anak Indonesia, betul-betul menggerus kualitas sumber daya manusia Indonesia,” kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.
Ia menuturkan penanganan stunting menjadi salah satu fokus utama pemerintah saat ini. Dimana fokus pemerintah di tahun 2024 angka stunting bisa turun ke angka 14 persen.
Baca Juga: Lakukan Pola Hidup Sehat Ini Agar Terhindar Dari Penyakit Gagal Jantung
Dengan prevalensi angka stunting yang masih 21,6 persen, BKKBN menilai hal tersebut akan memengaruhi masa depan anak bangsa karena ada potensi angka tersebut bertambah akibat kelahiran bayi stunting baru.
Dalam pelaksanaannya pun, program percepatan penurunan stunting dijadikan sebagai program prioritas nasional.
Dampak stunting, anak memiliki tinggi badan yang tidak cukup, kemampuan intelektual di bawah rata-rata, dan bisa memiliki potensi besar memiliki penyakit gangguan metabolik saat usia tua.
Baca Juga: Kenali Gejala Penggumpalan Darah Ini, Untuk Mencegah Terjadinya Penyakit Serius
Hal inilah yang akan membuat SDM untuk generasi selanjutnya akan mengalami penurunan yang di akibatkan oleh stunting bila man tidak segera di atasi.
“Butuh waktu antara 3 sampai 5 tahun maka stuntingnya baru bisa diturunkan,” kata dia, dimana ia menegaskan bawasanya stunting tidak bisa secara langsung di tangani, akan tetapi bertahap.
Hasto mengingatkan bahwa stunting terjadi karena anak kekurangan gizi kronik sehingga saat ini hal yang harus dilakukan mengoreksi asupan gizi anak dengan memperbanyak protein hewani dan mengolah pangan lokal yang kaya nutrisi, seperti telur, lele, daun kelor, minyak merah atau beras fortivikasi.
Baca Juga: Kadispora Buka Acara Rekerkab KONI Garut Tahun 2023
Sanitasi yang buruk dan ketiadaan jamban hingga jumlah anak dalam satu keluarga yang terlalu banyak, jarak waktu melahirkan yang terlalu dekat, serta melahirkan pada usia terlalu muda ataupun terlalu tua, juga menjadi beberapa faktor penyebab anak stunting.
“Intervensi untuk menurunkan stunting pada faktor ini melalui penggunaan kontrasepsi. Kita bisa melakukan gerakan pasang alat kontrasepsi. Sebab, jarak waktu melahirkan ini berpengaruh terhadap prevalensi stunting,” ujarnya.
Oleh karena itu, BKKBN terus memperluas jejaring kerja sama, di mana kini pihaknya mulai menggandeng Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas atau YDKK, pada Senin 13 Maret 2023, sebagai pihak yang memiliki fokus dan minat yang sama.***
Artikel Terkait
Bersihkan Rahim, Dengan Memakan 6 Makanan Ini, Simak Apa Saja?
Pemilu 2024 Ditunda Karena Putusan PN Jakpus ?, Ini Penjelasan Praktisi Hukum HN Suryana
Banyak Pengusaha UMKM di Garut Belum Kantongi Ijin Usaha
Sri Sultan Hamengku Buwono X: Merapi Hanya menutupi Lubang-Lubang Galian Pasir
Bukan Hany Enak, Ternyata Kacang Hijau Baik Untuk Perkembangan Anak
Kemenkes Sarankan Makan Buah Alpukat untuk Dapatkan 5 Manfaat Ini
Kadispora Buka Acara Rekerkab KONI Garut Tahun 2023