VIEWJABAR - Pemerintah akan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada lima tokoh yang berjasa besar terhadap bangsa dan negara.
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional tersebut diumumkan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD selaku Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan usai bertemu dengan Presiden di Istana Bogor, Kamis 3 September 2022.
Mahfud MD menjelaskan, gelar Pahlawan Nasional untuk lima tokoh ini telah melalui mekanisme dan proses yang panjang. Lima tokoh ini dipilih berdasarkan usulan masyarakat dan telah melalui sejumlah proses seleksi.
“Memutuskan tahun ini memberikan lima gelar Pahlawan Nasional kepada tokoh-tokoh bangsa yang telah ikut berjuang mendirikan negara Republik Indonesia melalui perjuangan kemerdekaan dan mengisinya dengan pembangunan-pembangunan sehingga kita eksis sampai sekarang sebagai negara yang berdaulat,” ujar Mahfud MD dikutip dari setkab.go.id.
Baca Juga: Perisiwa Penting yang Terjadi pada 4 November
Berikut lima tokoh yang akan mendapatkan gelar Pahlawan Nasional tersebut:
1. Almarhum DR. dr. H. R. Soeharto dari Jawa Tengah.
DR. dr. H. R. Soeharto adalah dokter pribadi Presiden Soekarno. Ia telah berjuang bersama Presiden Soekarno dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.
Setelah kemerdekaan, almarhum ikut serta dalam pembangunan sejumlah infrastruktur di Tanah Air. Di antaranya embangunan department store syariah dan pembangunan Monumen Nasional serta Masjid Istiqlal dan pembangunan Rumah Sakit Jakarta. Ia juga salah seorang pendiri berdirinya IDI Ikatan Dokter Indonesia.
Baca Juga: 3 Gudang Bahan Baku Obat Afi Farma Digeledah, Bareskrim Amankan Sejumlah Barang Bukti
2. Almarhum KGPAA Paku Alam VIII
Almarhum merupakan Raja Paku Alam dari tahun 1937-1989. Jasa yang telah diberikan almarhum KGPAA Paku Alam VIII antara lain bersama Sultan Hamengkubowono IX dari Keraton Yogyakarta mengintegrasikan diri pada awal kemerdekaan Republik Indonesia sehingga Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi utuh hingga saat ini.
“Sehari sesudah (kemerdekaan) itu beliau menyatakan bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia dan kemudian Yogyakarta menjadi ibu kota yang kedua dari Republik ketika terjadi agresi Belanda pada tahun 1946,” tutur Menko Polhukam Mahfud MD.
Artikel Terkait
Pernyataan Terbaru Menpan RB Soal Seleksi PPPK Tenaga Guru
Belum Bisa Bekerja, Biaya Hidup Rohimah Ditanggung Pemkab Garut Selama 5 Bulan, Segini Tiap Bulannya
Gempar, Seorang Mahasiswi Unsoed Melakukan Percobaan Bunuh Diri di Taman Kampus
Buntut Tragedi Halloween Itaewon, Dua Pejabat Kantor Polisi Yongsan Diberhentikan dan Diperiksa
Dua Warga Terindikasi Gagal Ginjal Akut, RSUD dr Slamet Garut Siapkan 10 Ruangan Khusus Antisipasi Lonjakan
3 Gudang Bahan Baku Obat Afi Farma Digeledah, Bareskrim Amankan Sejumlah Barang Bukti
Cekcok Walikota Tasikmalaya vs Pedagang Jalan Cihideung, Itu Bukan Urusan Saya
Perisiwa Penting yang Terjadi pada 4 November