"Saya hanya mau curhat saja dan meminta kebijaksanaan dari bapak sebagai kontraktor dan sama-sama memahami kondisi usaha," katanya dalam rekaman itu.
Namun, seperti yang tak peduli dengan kondisi itu, pimpinan kontraktor keukeuh dengan pendiriannya tak ada kebijaksanaan dan menyampaikan kekhawatiran ada pihak lain yang juga meminta tambahan kompensasi.
"Jadi tak ada lagi pengeluaran-pengeluaran lainnya di lokasi tower 17 itu, malah LSM-LSM yang minta pun tidak saya tanggapi," ujar pimpinan kontraktor dalam rekaman.
Dengan kondisi itu, Ayi mengaku bingung harus mengadu kepada siapa, sementara tanah tempatnya berproduksi gelasan tidak bisa digunakan lagi.
"Terus terang pesanan dari pelanggan tak bisa dipenuhi karena tak bisa berproduksi gelasan. Ya, pelanggan saya jadi pindah ke yang lain," ungkap Ayi dengan nada sedih.
Ayi mengungkapkan, dalam sosialisasi sebelumnya tidak terbesit meminta kompensasi, sehingga tak ada persiapan apapun. Tapi setelah pelaksanaan pekerjaan tower SUTET, ternyata di lahan miliknya banyak pipa-pipa dan material lain sehingga tidak memungkinkan melakukan aktivitas produksi gelasan.
Menanggapi permasalahan itu, Kepala Desa Kutamandiri, Agustina, saat dihubungi tengah berada di luar kota. Namun Ia berjanji akan membahas perkembangan masalah itu pada hari Senin mendatang.
"Mohon maaf takut salah menyampaikan, InshaAllah Senin akan kita bahas, sekarang sedang berada di luar kota," katanya singkat.***
Artikel Terkait
Warga Kampung Tanah Baru Mengeluh Kebanjiran Setelah Ada Bangunan SMAKBO, Bima Arya : Saya Akan Cek ke Lokasi Proyek Minta Perhatian Pihak Terkait
Tersangka Kasus Korupsi Lahan Tol Cisumdawu Resmi Ditahan dan Siap Ditindaklanjuti Kejari Sumedang